Maksimalkan Kegiatan Perkuliahan, Buatlah List Target agar Terarah!

Pers G-Plasma, Beberapa perguruan tinggi telah memulai tahun ajaran baru. Ini berarti mahasiswa baru sekalipun telah aktif memasuki kegiatan perkuliahan. Namun, tak sedikit dari mereka masih kebingungan untuk memaksimalkan potensi dirinya. Untuk itu, berikut beberapa tips dan trik memaksimalkan diri di perkuliahan yang dilansir dari laman gramedia.com.

  1. Aktif Mencari Tahu
    Saat memasuki dunia perkuliahan, kamu dituntut untuk mandiri termasuk dalam mencari berbagai informasi yang berkaitan dengan kampus dari berbagai sumber. Sebagai contoh ialah dari BEM kampus dan humas kampus. Informasi tersebut dapat berupa informasi akademik maupun non akademik. Hal ini agar kamu tidak ketinggalan informasi yang penting.
  2. Membuat Rencana Akademik
    Masa awal perkuliahan adalah waktu yang tepat untuk untuk membuat rencana akademik. Hal ini agar apa yang kamu lakukan bisa terencana. Selain itu, kamu bisa mengetahui perkembangan akademik yang sudah kamu lalui. Sebagai contoh, kamu membuat rencana setiap semester yang kamu lalui atau menyusun target di tahun berapa kamu lulus kuliah. Dengan begitu, kamu bisa terpacu dan teringat tentang apa yang harus kamu capai.
  3. Membuat List Target yang Harus Dicapai
    Selain rencana akademik sebelumnya, kamu perlu membuat target yang harus kamu capai mendatang. Jika salah satu target terselesaikan, maka coret atau berilah tanda pada list targetmu. Hal ini agar kegiatanmu kedepannya lebih terarah dan jelas tujuannya.
  4. Mengikuti Organisasi atau Komunitas
    Disela padatnya jadwal kuliah, pergunakan waktu kosongmu untuk mengikuti kegiatan organisasi atau komunitas yang kamu minati. Dengan mengikuti organisasi atau komunitas, kamu bisa bertemu orang-orang baru dengan latar belakang yang berbeda. Selain itu, mengikuti diskusi forum akan memberikan pandangan baru serta memperluas wawasanmu.
  5. Time Management itu Penting!
    Tanpa time management (manajemen waktu) semua yang sudah disusun dan direncanakan tidak akan berjalan dengan baik. Maka dari itu sebagai mahasiswa, kamu harus pintar dalam mengelola waktu yang kamu punya. Kamu harus bisa membagi waktu dengan proporsional sesuai apa yang ingin kamu lakukan mendatang. Di samping itu, jangan lupa untuk menyisihkan waktu guna relaksasi. Tujuannya agar kamu tidak jenuh dengan kegiatan yang padat sebelumnya.
    Mulai dari sekarang, yuk memaksimalkan diri di perkuliahan dengan langkah-langkah di atas. Hal ini agar kedepannya perkuliahan kamu bisa lebih mudah dijalani dan target-target masa depan bisa terpenuhi. Semangat ya!

Penulis: Habib, Octa, dan Marsyella
Editor : Muktamiroh

Waspadai Berita Hoaks yang Beredar, Berikut Sederet Fakta dan Mitos Vaksinasi Covid-19

GAMBAR CAPT1

Pers G-Plasma, Semua orang berhak untuk mendapatkan Vaksin Covid-19. Namun, karena informasi “kata teman”, “kata temannya kakak aku”, “kata tetangga lewat grup WhatsApp”, atau informasi yang tidak jelas kebenarannya dari orang-orang sekitar dan media sosial, beberapa orang menjadi ragu atau bahkan menolak vaksinasi. Hal tersebut karena alasan keamanan, efektivitas, atau percaya teori konspirasi tertentu. Penyebaran informasi palsu atau hoax merupakan salah satu masalah utama di era digital yang serba cepat.

Selama pandemi Covid-19, banyak informasi-informasi keliru seputar Covid-19 yang beredar di media sosial. Secara khusus, teori konspirasi atau informasi palsu mengenai Vaksin Covid-19 pun telah tersebar luas hingga menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Hal ini bisa membahayakan karena terkait dengan wabah penyakit yang tengah dihadapi masyarakat di banyak negara. Berikut ini fakta dan mitos vaksin Covid-19 yang sering beredar.

1. Vaksin tidak aman karena dikembangkan dan diuji dalam waktu singkat (MITOS)

Vaksin Covid-19 dikembangkan dan diuji dalam waktu yang cukup singkat bukan tanpa alasan. Direktur Johns Hopkins Office of Critical Event Preparedness and Response, Gabor D. Kelen, M.D., FACEP, FAAEM, FRCP(C), menjelaskan bahwa ada banyak alasan mengapa Vaksin Covid-19 dapat dikembangkan begitu cepat, yakni:

• Vaksin Covid-19 dibuat dengan metode yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun sebelumnya sehingga perusahaan dapat memulai proses pengembangan vaksin di awal pandemi.

• Pengembang vaksin tidak melewatkan langkah pengujian apa pun, tetapi melakukan beberapa langkah pada jadwal yang tumpang tindih (bersamaan) untuk mengumpulkan data lebih cepat.

• Beberapa jenis Vaksin Covid-19 dibuat menggunakan messenger RNA (mRNA), yang memungkinkan pendekatan yang lebih cepat daripada cara pembuatan vaksin secara tradisional.

2. Vaksin Covid-19 punya efek samping yang parah seperti reaksi alergi. (MITOS)

Fakta: Beberapa peserta dalam uji klinis vaksin memang melaporkan munculnya efek samping yang serupa dengan yang dialami dengan vaksin lain, seperti alergi, nyeri otot, menggigil, dan sakit kepala. Walaupun sangat jarang, orang memang bisa mengalami reaksi alergi parah terhadap bahan yang digunakan dalam vaksin. Itu sebabnya para ahli merekomendasikan orang dengan riwayat reaksi alergi yang parah, seperti anafilaksis terhadap ramuan vaksin sebaiknya tidak mendapatkan vaksinasi.

3. Setelah menerima Vaksin Covid-19, kita tidak perlu lagi pakai masker. (MITOS)

Fakta: Memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak fisik tetap diperlukan sampai sejumlah orang membentuk herd immunity. Perlindungan terbaik bagi kita saat ini adalah dengan terus mengikuti protokol kesehatan.

4. Vaksin Covid-19 bisa ganggu sistem kekebalan tubuh. (MITOS)

Fakta: Mengutip laman University of Maryland Medical System, pemberian vaksin tidak berdampak pada sistem kekebalan tubuh. Sebagaimana anak-anak yang menerima berbagai vaksin berdekatan dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik, orang dewasa yang akan divaksinasi pun tidak akan terganggu sistem kekebalan tubuhnya.

5. Orang yang pernah terinfeksi tidak perlu menerima vaksin. (MITOS)

Fakta: Melansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pasien Covid-19 memang telah memiliki antibodi setelah tertular. Akan tetapi, antibodi tersebut hanya dapat bertahan dalam jangka waktu 3-4 bulan, selebihnya ia akan kembali rentan terinfeksi. Dengan melakukan vaksin, tubuh akan memiliki sistem kekebalan lebih baik dengan jangka waktu lebih lama.

6. Vaksin dapat menyebabkan autisme. (MITOS)

Fakta: Berbagai penelitian dari banyak negara membuktikan tidak ada kaitan antara pemberian vaksin dengan terjadinya autisme.

7. Orang yang merasa kebal tidak perlu ikut vaksinasi. (MITOS)

Fakta: Mendapatkan vaksin bisa melindungi diri sendiri dan orang-orang sekitar. Hal ini karena bisa meminimalisir penularan penyakit yang ditularkan dari satu orang ke orang lain. Semakin banyak orang yang divaksinasi, maka semakin kecil kemungkinan timbulnya wabah penyakit.

8. Anda bisa tertular Covid-19 dari vaksin. (MITOS)

Fakta: Anda tidak akan tertular Covid-19 dari vaksin karena vaksin tidak mengandung virus corona yang hidup. Umumnya, butuh waktu beberapa minggu bagi tubuh untuk membangun kekebalan terhadap virus yang menyebabkan Covid-19 setelah vaksinasi. Hal ini membuat adanya kemungkinan seseorang terinfeksi virus yang menyebabkan Covid-19 sebelum atau setelah vaksinasi dan tetap sakit. Ini karena vaksin belum punya cukup waktu untuk memberikan perlindungan.

Situasi darurat juga memerlukan tanggapan darurat. Namun, ini bukan berarti perusahaan mengabaikan protokol keselamatan atau tidak melakukan pengujian yang memadai untuk pengembangan vaksin. Semoga dengan adanya vaksinasi Covid-19 yang sedang dilakukan di Indonesia bisa menekan angka penyebaran virus tersebut.

Walaupun sudah ada vaksinasi kita tidak boleh mengabaikan protokol kesehatan dan menerapkan 5M yang dianjurkan oleh pemerintah yaitu:

1. Memakai masker.

2. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

3. Menjaga jarak dan menjauhi kerumunan.

4. Membatasi mobilitas masyarakat.

5. Melakukan vaksinasi sesuai dengan peraturan pemerintah.

Mari ikut ambil bagian menyukseskan program vaksinasi nasional untuk menekan angka penularan penyakit dan menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity). Caranya adalah jadi masyarakat yang cerdas dan tak mudah percaya hoaks! Semoga kita terhindar dari penyebaran virus Covid-19, tetap semangat dan jangan lupa jaga kesehatan.

 

Penulis: Nadinda

Editor: Hanisa

 

Indonesia di Masa Pandemi: Antara Prokes, PPKM, dan Masyarakat

IMG_20210723_165501_068

Pers G-Plasma, Tidak terasa sudah satu tahun pandemi Covid-19 ada di Indonesia. Hal ini terhitung dari bulan Maret 2020 hingga sekarang, tetapi belum juga menemui hasil baik. Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan pemerintah untuk mencegah dan mengurangi risiko penyebaran Covid-19 ini. Dikutip dari kompasiana.com, beberapa kebijakan di antaranya mematuhi protokol kesehatan dan mengimbau masyarakat untuk dapat menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Protokol tersebut, seperti menggunakan masker, rajin mencuci tangan, dan wajib menjaga jarak. Selain itu, pemerintah juga menerapkan lockdown dan yang terbaru, yaitu PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat).

Namun, sejak awal pandemi, masih banyak masyarakat yang abai terhadap kebijakan pemerintah tersebut. Hal ini tentunya berpotensi memicu kelonjakan kasus Covid-19. Sebenarnya apa penyebab abainya masyarakat terhadap aturan protokol kesehatan ini? Melansir dari theconversation.com, ketidakpatuhan masyarakat Indonesia terhadap protokol kesehatan sebagian besar terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap bahaya penyakit, manfaat penanganan, serta besarnya hambatan dalam akses kesehatan. Selain itu, faktor jenuh dengan pandemi juga disebut menjadi salah satu alasannya.

Serupa dengan prokes, PPKM yang diberlakukan akhir-akhir ini juga belum efektif mengurangi risiko penyebaran Covid-19. Nyatanya, Masih banyak yang tidak menghiraukan adanya PPKM ini. Ada beberapa faktor yang membuat masyarakat enggan untuk mematuhi kebijakan PPKM ini, melansir dari mediaindonesia.com, beberapa faktor tersebut di antaranya:

1. Adanya perbedaan penerapan standar pemberlakuan kebijakan pembatasan yang mana dinilai inkonsisten oleh sebagian masyarakat.

2. Model pendekatan yang cenderung dilakukan dengan ancaman sanksi dan lebih banyak memperlakukan masyarakat sebagai terdakwa daripada sebagai korban situasi.

3. Desakan kebutuhan sehari-hari yang tidak bisa ditunda.

4. Munculnya oknum dan orang-orang tertentu yang mencoba mencari keuntungan dari situasi ini.

Semua ini berawal ketika wabah ini masuk ke Indonesia untuk pertama kalinya. Jika dari awal pemerintah tegas dalam menangani kasus Covid-19 ini, pasti kasus ini terkontrol dan tidak akan melonjak seperti saat ini. Pemerintah dengan segala upayanya masih belum optimal dalam membangun kesadaran masyarakat akan bahaya Covid-19, memberikan kemudahan akses kesehatan, dan mengedukasi masyarakat. Akibatnya, banyak masyarakat Indonesia yang mudah percaya dengan berita hoax dan berujung tidak percaya dengan keberadaan Covid-19. Selain itu, kurangnya keterbukaan semua pihak dalam menangani Covid-19 ini membuat masyarakat menjadi ragu.

Menurut sebuah artikel dari theconversation.com, kepatuhan masyarakat menjadi sangat penting dan merupakan kunci keberhasilan. Upaya membangun kesadaran masyarakat harus ditingkatkan dengan beberapa cara, di antaranya:

1. Dengan melakukan komunikasi yang lebih efektif hingga ke akar rumput. Hal ini dapat berlangsung melalui berbagai media dan metode yang sesuai dengan keragaman usia, pendidikan dan budaya masyarakat atau kearifan lokal.

2. Kampanye yang lebih jelas dan terarah sehingga masyarakat memiliki kesamaan pandangan untuk melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit. Selain itu, kampanye membangun optimisme masyarakat Indonesia dalam menghadapi Covid-19 juga perlu digalakkan.

3. Mempermudah akses kesehatan dengan informasi yang jelas dan berkelanjutan sehingga masyarakat cepat melakukan tindakan pemeriksaan, pengobatan, dan isolasi mandiri ketika terinfeksi.

4. Menerapkan kebijakan yang konsisten sehingga tidak membingungkan masyarakat.

Penulis: Rahmadhona

Editor: Shindy

 

Antara Pandemi Covid-19 di Indonesia dan Singapura: Pelajaran Apa yang Bisa Kita Dapat?

 

Foto artikel opini (twibbon)

Pers G-Plasma, Dilansir dari cnnindonesia.com, Pemerintah Singapura baru-baru ini menyatakan bahwa Singapura akan memasuki masa normal baru. Masa tersebut dilakukan dengan beraktivitas normal dan hidup dengan Covid-19 tanpa harus menjalani karantina (lockdown) dan menganggapnya sebagai flu biasa. Mengapa Singapura berani mengambil langkah tersebut? Melalui cuitan di Twitter, dr.Tirta mengungkapkan ada beberapa hal yang menjadikan Singapura berani mengambil keputusan untuk hidup bersama virus Covid-19 ini, di antaranya:

1. Singapura termasuk negara yang disiplin, baik pemerintah maupun warganya apalagi soal protokol kesehatan selama ini.

2. Program vaksinasi berjalan lancar.

3. Fasilitas kesehatannya lengkap dan mumpuni.

Dalam twitternya, ia juga menambahkan, “Jika kita ingin seperti itu di Indonesia, jangan mau hasilnya aja, tapi menghindari prosesnya.”

Kesigapan Indonesia dalam menghadapi kasus Covid-19 memang masih kalah jauh dengan negara tetangga kita ini. Hal ini terbukti berdasarkan data Ourworldindata.org, Sebanyak, 2,06 juta atau 36% dari total penduduk Singapura sudah menerima vaksinasi lengkap. Kesadaran dan kepatuhan kolektif dari setiap anggota masyarakat dinilai paling menentukan kesuksesan normal baru di Singapura. Hal tersebut terbukti ketika Singapura mencatat total 62.544 kasus Covid-19 dengan angka kematian sejumlah 36 kasus. Ini menjadikan Singapura sebagai salah satu negara dengan kasus Covid-19 terendah di dunia.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Menurut tempo.co per 26 Juni total yang menerima dua dosis vaksin Covid-19 sebanyak 13.018.524 jiwa dan target pemerintah berencana memvaksinasi 181,5 juta warga atau 70 persen dari jumlah populasi. Per tanggal 26 Juni kasus Covid-19 di Indonesia tercatat sebanyak 2.093.962 jiwa, angka yang sangat tinggi dengan kurva yang semakin naik.

Memang, penanganan kasus Covid-19 Singapura dan Indonesia tidak bisa disamakan begitu saja mengingat Indonesia memiliki populasi yang lebih banyak dari Singapura. Namun, dari negara tetangga ini kita bisa belajar bahwa dalam memerangi pandemi harus ada kerja sama dan kepercayaan antara pemerintah dengan masyarakat. Kita memang tidak bisa kembali sepenuhnya beraktivitas seperti sebelum pandemi Covid-19 ini ada. Namun, kita masih bisa beraktivitas dengan keadaan yang baru. Kuncinya adalah kepatuhan dan kepercayaan masyarakat juga vaksinasi, karena vaksinasi sangat efektif mengurangi risiko tertular dan menularkan.

Masalah-masalah lain yang muncul saat pandemi Covid-19 di Indonesia juga sedikit banyak berdampak pada penanganan kasus Covid-19. Hal tersebut dimulai dari adanya oknum yang tidak bertanggung jawab, ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah, hingga masyarakat yang masih ‘bebal’ dengan protokol kesehatan yang berlaku. Kita boleh saja tidak menyukai sesuatu, tetapi jangan merugikan orang lain. Tidak ada salahnya juga untuk memberikan kritik, tetapi harus yang bersifat membangun dan disertai dengan jalan keluarnya. Kritik sah dilakukan, tetapi protokol kesehatan bukanlah hal yang harus diabaikan. Mari menjadi pribadi yang taat dengan protokol kesehatan agar semua segera terselesaikan.

Penulis : Tama

Editor : Hanisa

 

Pengenalan Divisi Design dan Layout

feed1


 

Divisi Design dan Layout mungkin masih asing untuk kebanyakan orang, ya… divisi ini biasanya digabung dengan Divisi Kominfo. Lalu apa sih Divisi Design dan Layout itu sendiri? Divisi yang memiliki tanggung jawab membuat sebuah design yang membentuk rancangan yang komunikatif serta susunan artistik. Sebuah design dibuat dengan penyusunan dari elemen gambar dan teks yang berhubungan ke dalam sebuah bidang dalam rangka mewujudkan komunikasi verbal menjadi komunikasi visual agar semua informasi tepat sasaran, singkat, padat, jelas sehingga lebih menarik perhatian audiens.
Selain membuat sebuah design, Divisi Design dan Layout dalam UKM Pers G-Plasma memiliki tugas dan wewenang diantaranya :
a. Mengkoordinir desain, melaksanakan layout, buletin, dan majalah UKM Pers G-PLASMA.
b. Membuat ilustrasi rubrik-rubrik buletin dan majalah G-PLASMA serta merawat inventaris yang berhubungan dengan layout.
c. Memberikan pemahaman terhadap setiap anggota UKM Pers G-PLASMA mengenai hal-hal layout yang diperlukan G-PLASMA.
d. Bertanggung jawab atas pengadaan dan pengelolaan bidang layout dalam pengerjaan buletin dan majalah kepada Pemimpin Redaksi.
e. Koordinator Lay Out berhak menunda atas izin Pemimpin Redaksi apabila dalam proses penglay-outan berita belum diedit sepenuhnya.
f. Koordinator Lay Out diwajibkan menyelesaikan layout maksimal satu minggu setelah semua berita selesai di edit oleh bagian Editor.
g. Koordinator Lay Out berhak mendesak pemimpin redaksi untuk mempercepat proses editing setelah melewati deadline.

Yuk belajar design bareng Divisi Design dan Layout G-Plasma!!
Bisa tidak ya aku jadi Desainer?
Menganggap belajar design itu sulit adalah tidak benar. Karena sudah banyak bermunculan software desain yang mudah dioperasikan. Tidak hanya itu, berbagai kelas pelatihan belajar design pun bisa kita ikuti guna mengasah kemampuan dalam pembuatan karya. Mulai dari kelas berbayar hingga gratis. Mempelajari Desain grafis kini sudah menjadi sebuah hal yang lumrah di era digital ini. Belajar design membutuhkan kemauan dan semangat yang tinggi agar belajar itu menjadi mudah. Design tidak hanya digunakan untuk menunjukkan kreatifitas namun bisa digunakan sebagai karier. Di masa content driven seperti sekarang, tentunya membuat desain grafis yang menarik untuk marketing merupakan sebuah kebutuhan branding mulai dari logo, brosur, kartu nama, dan web yang menarik.
Untuk itu, kita perlu belajar mengenai desain grafis. Inilah langkah yang perlu dimulai :

1. Mengetahui pengetahuan dasar atau basic dari desain itu sendiri. Ada 3 prinsip dasar design, diantaranya :

• Tipografi : gaya kata yang tertulis, semua format teks melibatkan tipografi.

• Hierarki : ini membantu membimbing mata pembaca di mana untuk memulai dan di mana untuk mengakhiri.

• Warna : kedudukan warna sangat penting untuk nuansa estetika sehingga memberikan kesan menarik.

2. Belajar mengoperasikan software design grafis mudah untuk dipelajari dan cocok bagi pemulaSoftware untuk berbasis vektor adalah Coreldraw dan Adobe Illustrator, sedangkan untuk yang berbasis bitmap adalah Adobe Photoshop. Untuk lebih praktis dioperasikan di ponsel bisa menggunkan Canva. Selain itu pelajari tools yang ada dan istilah design melalui internet, mulai dari font, color palate, kerning, white space, alignment, hierarchy, background, foreground, dan banyak lagi istilah lainnya.

3. Berlatih dan Mengumpulkan design yang menginspirasi untuk menciptakan ide design

Setelah mengetahui teknis menggunakan software desain grafis maka perbanyaklah berlatih. Latihan bisa dimulai dengan meniru hasil design orang lain, semakin mirip hasil maka Anda sudah mulai mahir. Untuk lebih mudah bisa belajar melalui Tuts+ Design dan Youtube dengan setiap langkahnya. Setelah itu lanjutkan membuat design dengan ide sendiri. Cara cepat mendapatkan ide adalah dengan banyak melihat referensi desain dari internet.

4. Menerima Kritik dan Saran
Setelah design berhasil dibuat, langkah berikutnya adalah mendapatkan kritik yang membangun dari desainer yang lebih berpengalaman. Mendengarkan kritik akan karya kita adalah cara efektif untuk belajar dan upaya pengembangan diri.
Bagaimana? Mudah bukan untuk menjadi desiner? Tidak harus memiliki keahlian sejak lahir di bidang ini namun yang diperlukan adalah mengasahnya dengan perbanyak latihan, menemukan inspirasi, dan referensi dari karya orang lain.

Penulis : Marsyella N.

Mengenal Divisi Editor di UKM Pers G-Plasma

Saat ini perkembangan informasi sangat cepat. Setiap orang bisa melihat berita atau kejadian yang menarik di media massa. Apalagi dengan adanya internet sebagai media yang dapat menyajikan informasi secara real time. Dalam kegiatan jurnalistik, informasi  tersebut tidak serta merta langsung di publish, tetapi harus melalui proses editing oleh seorang editor.

Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM) di Politeknik Negeri Madiun yang bergerak di bidang Pers adalah G-Plasma. Dimana organisasi ini sebagai media massa mahasiswa dalam mendapatkan informasi, serta menyampaikan informasi yang bersifat terbuka dalam menerima aspirasi seluruh mahasiswa Politeknik Negeri Madiun.

Sebagaimana kegiatan jurnalistik, di G-Plasma proses editing berita/artikel dilakukan oleh Divisi Editor. Divisi ini berada di bawah Pimpinan Redaksi (Pimred), Indah Pranataning Tyas, pada Periode 2020/2021. Editor bisa disebut juga seorang yang bekerja di belakang layar. Editor bertugas menyunting berita/artikel sebelum diterbitkan.

Seorang editor harus memiliki kepekaan terhadap bahasa, mengerti ejaan, memahami tata bahasa, dan tidak malas membaca kamus, misalnya KBBI atau PUEBI, serta memiliki kepekaan terhadap unsur SARA dan pornografi. Berikut ini adalah tugas Editor yang terdapat dalam AD/ART UKM Pers G-Plasma Politeknik Negeri Madiun:

  1. Mengedit atau menyunting seluruh hasil karya tulis atas izin Reporter.
  2. Mengoordinasikan kembali hasil editorial dengan Reporter sebelum dicek dan disetujui oleh Pemimpin Redaksi.
  3. Wajib mendelegasikan anggotanya minimal 2 orang setiap rapat evaluasi.

Pada Periode 2020/2021 anggota Divisi Editor UKM Pers G-Plasma ini berjumlah 11 orang, yang di koordinasi oleh Nabila Rohmah dan anggota sebagai berikut:

  1. Dita Fajarothul I.
  2. Ratriana Lia M.
  3. Kistia Meilani Sanda
  4. Jenny Refa A. M.
  5. Hanisa Putri Aprilia
  6. Aprilia Rista Pristianti
  7. Elvira Amri Saida
  8. Dany Sekti A.
  9. Rima Maulidiya P.
  10. Winda Eka R.

Itulah tugas pokok dan fungsi Editor di UKM Pers G-Plasma. Sabar dan teliti adalah kunci menyajikan informasi yang berkualitas. Oleh karena itu, di masa yang serba cepat ini diharapkan G-Plasma dapat menghasilkan informasi yang bebas dari hoax dan menarik tentunya. Semoga bermanfaat.

G-Plasma, Get The Real News!!

Penulis: Nabila dan Jenny (Div. Editor)

DIVISI KOMINFO?

Divisi Kominfo? Pasti kalian sudah tidak asing dengan kata “Kominfo”. Kominfo adalah singkatan dari kata Komunikasi dan Informasi. Komunikasi adalah proses penyampaian informasi atau pesan dari satu pihak kepada pihak lain baik yang dilakukan secara verbal maupun non verbal. Sedangkan informasi adalah sekumpulan data atau fakta yang telah diproses dan diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan sesuatu yang dapat dipahami oleh pihak lain. Jadi, dapat diartikan bahwa divisi kominfo adalah divisi yang mewadahi aspirasi dan menjembatani penyampaian informasi baik yang berasal dari anggota organisasi maupun dari lingkungan eksternal.

Divisi Kominfo pada UKM Pers G-Plasma merupakan salah satu divisi perusahaan yang memiliki otoritas dalam penyebarluasan informasi. Selain itu, divisi kominfo juga memiliki tugas dan wewenang sebagai berikut:
1. Menjalin hubungan kerjasama baik internal maupun eksternal kampus.
2. Mencari informasi dari kampus lain baik berita maupun informasi yang berkaitan dengan pers.
3. Mencari informasi penting yang terjadi di internal maupun nasional yang bisa berguna untuk kemajuan media maupun bidang usaha.
4. Mendelegasikan anggota untuk menghadiri undangan.
5. Mempublikasikan seluruh karya anggota UKM Pers G-PLASMA.
6.Bertanggung jawab atas semua pengelolaan media sosial online.

Ada beberapa cara yang dilakukan untuk menyebarluaskan suatu informasi yang ada, salah satunya melalui sosial media seperti Instagram dan web. UKM Pers G-Plasma memiliki akun Instagram, yaitu @gplasma_pnm. Selain itu, jika kalian ingin tahu lebih lanjut tentang UKM Pers G-Plasma kalian juga bisa mampir ke web UKM Pers G-Plasma yaitu pers.pnm.ac.id. Kalian bisa mengetahui berita-berita tentang kampus maupun luar kampus dengan mengunjungi sosial media kami.
Dalam pendistribusian informasi ada beberapa tata cara penyampaian informasi yang baik. Tata cara penyampaian informasi ini sangat penting untuk diperhatikan agar tidak terdapat kesalahpahaman. Berikut ini adalah beberapa tata cara yang bisa digunakan dalam menyampaikan informasi:
1. Informasi yang disampaikan harus jelas dengan bahasa yang mudah dipahami agar orang lain dapat mencerna informasi yang diberikan.
2. Dalam menyampaikan informasi harus fokus pada pokok pembicaraan sehingga tidak terkesan bertele-tele.
3. Informasi yang disampaikan harus benar dan sesuai fakta karena sebuah informasi tidak akan memiliki nilai apabila tidak benar.
4. Sampaikan informasi dengan lengkap tanpa mengurangi atau menambah informasi yang ada.
5. Gunakan bahasa yang sopan dalam berkomunikasi dan menyampaikan informasi. Hindari kata-kata yang dapat menyinggung atau menghina seseorang.

Pengenalan Divisi Litbang

Masalah (problem) merupakan salah satu hal yang tidak bisa dipungkiri dapat terjadi dalam sebuah organisasi. Begitu juga dengan UKM Pers G-PLASMA. Baik itu sesama divis, per divisi, maupun satu dengan yang lain. Oleh karena itu, adanya salah satu divisi yang mungkin bisa membantu menyelesaikan permasalahan tersebut sangat mempunyai peran penting dalam menunjang dan membantu pencapaian tujuan bersama di  UKM Pers G-PLASMA yaitu Divisi Litbang

Apa sih Divisi Litbang?

Divisi Litbang merupakan kependekan dari Divisi Penelitian dan Pengembangan. Divisi Litbang adalah salah satu divisi yang termasuk dalam perusahaan UKM Pers-Gplasma. Dengan begitu, hal ini sesuai dengan tugas dan wewenang dari Divisi Litbang yaitu :

  1. Membantu anggota redaksional dalam meneliti suatu berita.

Walaupun Divisi Litbang termasuk dalam perusahaan, namun tidak menutup kemungkinan bahwa Divisi Litbang juga mempunyai tugas untuk membantu anggota redaksi baik secara langsung maupun tidak langsung.

  1. Melaporkan dan mengevaluasi anggota UKM Pers G-PLASMA  dan mengcover kegiatan-kegiatan yang vakum.

Jika ada anggota UKM Pers G-PLASMA yang pasif, bermasalah, bahkan menyeleweng dari tata tertib UKM Pers G-PLASMA maka Divisi Litbang mempunyai kewajiban untuk mengkritik, memberi arahan, mencari solusi, dan menyelesaikan masalah tersebut. Selain itu, Divisi Litbang juga bertugas untuk mengingatkan kepada divisi/anggota yang lain untuk menyiapkan program kerja/kegiatan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat serta memastikan bahwa program kerja tersebut dapat berjalan dengan semestinya. Jika ada program kerja yang tidak terlaksana tanpa alasan yang jelas, Divisi Litbang bertugas untuk mencari tahu alasan dan mencari solusinya.

  1. Membuat pelatihan kepada anggota dalam tujuan pengembangan kualitas anggota.

Divisi Litbang juga mempunyai beberapa program kerja (proker) yang wajib dilakukan oleh seluruh anggota UKM Pers G-PLASMA. Lalu, apa sih pelatihan dalam mengembangkan kualitas anggota UKM Pers G-PLASMA?

Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) yang biasanya dilakukan di kampus pada saat jam kuliah libur dan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) dimana sebuah pelatihan mempunyai UU yang melindungi pers dan kode etik.

Pada saat PJTD dan PJTL UKM Pers G-PLASMA biasanya mendatangkan demisioner, internal, maupun eksternal kampus yang berkompeten dan ahli di bidangnya untuk menambah pengetahuan dan melatih keterampilan anggota UKM Pers G-PLASMA dalam bidang jurnalis.

Pada intinya, pelatihan tersebut dilakukan agar ilmu yang diajarkan dapat diterima, dipahami, dan diolah menjadi senuah karya yang dapat dipublikasikan oleh para anggota UKM Pers G-PLASMA .

Selain PJTD dan PJTL, Divisi Litbang juga memegang buku induk tahunan kepengurusan UKM Pers G-PLASMA.

 

Pengenalan Divisi Reporter

Ada yang tahu enggak sih, Divisi Reporter di G-Plasma itu apa? Jadi, Divisi Reporter adalah divisi yang bertugas untuk menjalankan reportase (liputan, wawancara atau sejenisnya di lapangan). Reportase biasanya dilakukan di lingkungan Kampus Politeknik Negeri Madiun maupun di luar kampus. Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan berita dari peristiwa atau acara yang sedang terjadi. Berita tersebut nantinya akan disampaikan kepada publik dalam bentuk tulisan melalui Instagram serta web G-Plasma. Sebelum dipublikasikan, Reporter menyerahkan berita ke Divisi Editor untuk dieditori. Berita yang sudah dieditori tidak begitu saja dipublikasikan, tetapi atas persetujuan Pimpinan Redaksi lebih dulu.

Selain tugas pokok liputan dan mencari berita. Divisi Reporter di G-Plasma juga punya wewenang dan tanggung jawab lho, penasaran apa aja? nih bakal dijelasin di bawah:

1. Mengoordinasi kerja setiap reporter dalam mencari berita yang menjadi tanggung jawabnya.
2. Menentukan rubik-rubik liputan utama melalui rapat evaluasi.
3. Bertanggung jawab atas wewenang yang diberikan oleh pimpinan redaksi dibidang non-liputan.
4. Wajib mendelegasikan anggotanya minimal 2 orang setiap rapat evaluasi.

Feed 2_compress84

Walaupun sudah sering melakukan liputan, seorang reporter harus tetap memperhatikan dan membawa perlengkapan untuk menjalankan tugasnya lho, kira-kira apa aja sih?

1. Meminta izin terlebih dahulu kepada pihak terkait (narasumber) sebelum melakukan liputan di tempat kejadian.
2. Menguasai topik pembicaraan ketika melakukan wawancara dengan narasumber.
3. Jangan lupa merekam ataupun memotret peristiwa di tempat kejadian.
4. Membuat berita berdasarkan data yang didapat di tempat kejadian.

Lalu peralatan penting seperti di bawah ini jangan sampai lupa ya!
1. Notes
2. Pulpen
3. Tape recorder
4. Kamera
5. Identitas reporter (seperti baju atau kartu identitas pers)

Penulis: Divisi Reporter

Yuk Kepoin Divisi Fotografer

UKM G-Plasma memiliki 6 divisi, salah satunya yaitu Divisi Fotografer. Divisi Fotografer adalah divisi yang beranggotakan anggota aktif UKM G-Plasma. Anggota divisi fotografer mempunyai tanggung jawab dalam hal mendokumentasikan dalam bentuk foto dan video sebagai penunjang proses liputan dan beberapa tugas lainnya. Berikut ini adalah tugas dan wewenang divisi fotografer :

1. Menjalankan tugas pemotretan yang diberikan Pemimpin Umum atau Pemimpin Redaksi.
2. Membuat video kegiatan selama proses liputan yang akan di-upload di channel youtube G-Plasma
3. Mengarsipkan softcopy foto–foto ke dalam Drop Box dan disk pribadi.
4. Menjaga, merawat dan mempertanggungjawabkan alat–alat dokumentasi.
5. Mengajukan foto kepada Pemimpin Redaksi setelah menyeleksi foto-foto yang akan dimasukkan ke dalam buletin dan majalah UKM Pers G-PLASMA untuk menunjang berita yang dimuat.

FEED 2 SLIDE 2

Nah, ada cerita menarik nih dari divisi fotografer yang bisa mengabadikan gambar kegiatan dari dalam kampus maupun pendelegasian keluar kampus juga. Pasti mau taukan contoh hasil jepretan dari divisi fotografer. Ada nih dari kegiatan dalam kampus yaitu MPJ (Masa Pengenalan Jurusan). Syarat utama untuk TA atau Tugas Akhir adalah adanya sertifikat MPJ dari jurusan masing-masing. Kegiatan ini diisi dengan materi hingga permainan untuk melatih kerjasama dan koordinasi antara internal kelompok. Pada foto ini memperlihatkan kebahagiaan dan antusias mereka dalam melasanakan sesi games. Eitss bukan itu aja, kita udah melanglang buana hingga ke Pulau Kalimantan yaitu Kegiatan Aliansi Pers Mahasiswa Politeknik Se-Indonesia (APMPI) tahun 2019 yang dilaksanakan di Politeknik Negeri Banjarmasin. Dalam Kegiatan APMPI juga terdapat sesi pemberian materi seputar kegiatan Pers. Wah, pasti seru kan, Pers Politeknik Negeri Madiun ini ikut andil dalam Pers Politeknik seluruh Indonesia. Apalagi dari Divisi Fotografer tentunya.

Dengan paling banyak melakukan foto untuk mendapatkan suatu berita, anggota divisi fotografer sudah pasti memiliki minat khusus di dunia pengambilan gambar ini. Untuk menunjang suatu gambar atau foto yang dihasilkan baik, tentu faktor utamanya adalah kamera, kedua yaitu skill dan yang ketiga adalah objek foto itu sendiri. Ketiga penunjang tersebut dapat diatasi dengan sedikit pengaturan atau edit. Dengan tidak mengubah terlalu banyak dan signifikan sebuah objek, maka edit tidak dipermasalahkan dalam penyampaian sebuah foto untuk berita. Masalahnya, rekayasa foto ini sebenarnya bisa terjadi bukan karena sisi edit hasil foto, melainkan terjadi karena pemilihan objek oleh fotografer, sudut pengambilan, moment yang tidak tepat, dan sebagainya.

Kemudian perkembangan teknologi di era digital editing, foto bukanlah suatu hal yang menjadi permasalahan. Seorang fotografer bisa dengan mudah berkarya dan berkreasi baik untuk keperluan estetik maupun untuk keperluan berita. Namun, di sisi lain, dengan kemajuan di era digital ini menyebabkan nilai dari suatu foto menjadi dipertanyakan antara kebenaran atau kebohongan.

Oleh karena itu, bagi fotografer jurnalistik atau wartawan yang bertugas menyebarluaskan berita tidak diperkenankan mengedit foto yang dapat menimbulkan suatu kebohongan publik sehingga ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang fotografer jurnalistik, seperti dilarang mengubah ekspresi subyek foto, gerak tubuh, sebagian anatomi tubuh atau aksesoris tubuh lainnya, memanipulasi usia atau penampilan, menambah, menukar atau menghilangkan obyek dimana akan mengubah keseluruhan konteks dari subyek foto tersebut.
sumber : sebagian www.indonesiaprintmedia.com