PKKMB Online, Ekspo UKM PNM Ikutan Online

PKKMB Online, Ekspo UKM PNM Ikutan Online

EXPO UKM PNM 2020

     Politeknik Negeri Madiun mengadakan acara pengenalan organisasi kemahasiswaan kepada mahasiswa baru angkatan 2020, hari Minggu,(23/82020). Acara ini diadakan secara online dikarenakan adanya pandemi Covid-19, dan tidak memungkinkan untuk mengadakan kegiatan yang melibatkan banyak masa. Mahasiswa baru dapat menonton video pengenalan tentang masing-masing organisasi mahasiswa (ormawa), yang di ditayangkan serentak pada pukul 09.00 WIB di seluruh official account Instagram Ormawa PNM dan channel youtube BEM PNM TV.

   Pelaksanaan dengan metode online pada tahun ini, menyebabkan persiapan setiap ormawa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika pada tahun sebelumnya setiap ormawa mendirikan stand, dan menghias semenarik mungkin, tahun ini sangat berbeda. Setiap ormawa harus membuat video pengenalan singkat. Rahma Dwi Cahyati selaku Menteri Dagri BEM mengungkapkan bahwa ini merupakan cara untuk melatih mahasiswa baru lebih aktif. “ Dengan diadakan secara online, mahasiswa bisa lebih aktif untuk bertanya langsung pada setiap organisasi yang akan diikuti. Selain itu, dari pihak organisasi sendiri dapat menilai apakah mahasiswa ini benar-benar berminat untuk bergabung atau tidak,” ungkapnya.

        Akan tetapi, sepertinya beberapa mahasiswa baru masih mengalami kesulitan. Moch. Royanul Mustofa, mahasiswa baru dari Prodi Mesin Otomotif mengatakan, “Saya belum bisa mengenal organisasi kemahasiswaan karena diadakan secara online, sehingga kurang maksimal dalam mendapatkan informasinya.”

       Namun, bagi mahasiswa baru yang sudah mendapatkan info yang cukup dan tidak mengalami kendala, mereka bisa langsung mendaftar di masing-masing organisasi pada tanggal 23-26 Agustus 2020. Cara pendaftarannya sangat mudah, yaitu dengan mengisi formulir pendaftaran melalui link Google Form pada Bio di Official Account Instagram setiap Unit Kegiatan Mahasiswa. Setiap mahasiswa diharapkan mengikuti minimal satu organisasi kemahasiswaan.

       KM PNM Expo ini juga termasuk rangkaian acara PKKMB setiap tahunnya. Hal ini selalu dilakukan supaya mahasiswa baru dapat mengenali semua organisasi mahasiswa yang ada di Politeknik Negeri Madiun. “Harapan kami mahasiswa baru dapat serius mengikuti seluruh kegiatan dengan semangat walaupun sedang melawan pandemi. Semoga semua ini bermanfaat bagi kalian semua” ungkap Rahma selaku Menteri Dagri BEM kepada G-Plasma.

Penulis: Grensa Afdilah

IMG-20200826-WA0008

Akibat Pandemi Covid 19, PNM adakan PKKMB Online

Memasuki tahun ajaran baru, Politeknik Negeri Madiun (PNM) menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) secara daring. Kegiatan ini dilaksanakan melalui aplikasi Zoom. Hal ini dilakukan karena pandemi Covid-19 yang tidak memungkinkannya untuk mengadakan kegiatan yang melibatkan banyak massa. Acara ini dilaksanakan mulai tanggal 24 Agustus sampai 27 Agustus. Acara ini mengusung tema Mahasiswa Kreatif, Inovatif, dan Nasionalis di Era Evolusi Industri 4.0.
Melalui acara ini diharapkan mahasiswa dapat menghadapi perkembangan revolusi industri 4.0 secara bijak dan lebih kreatif serta inovatif. Tetapi tetap memiliki jiwa nasionalis dan cinta tanah air. Acara ini dikoordinir oleh dosen dan mahawasiswa. Bapak Hifzhan Frima Thousani, S.AB., M.A.B. ditunjuk sebagai Ketua Pelaksana PKKMB tahun ini.
Dosen yang akrab disapa Pak Tosan oleh mahasiswa ini mengatakan, persiapan PKKMB tahun ini terbilang cukup singkat dan hanya memakan waktu selama 2 minggu, dan dibantu oleh para dosen senior yang sebelumnya terlibat dalam kegiatan PKKMB serta pihak BEM. Hal ini juga selaras dengan diterangkannya Hesty Nurcahyanti selaku koordinator PKKMB 2020 dari pihak BEM.
Acara ini dibuka pada hari Selasa (24/08/2020) pada pukul 07.30 WIB oleh Direktur Politeknik Negeri Madiun, Muhammad Fajar Subkhan, S.T., M.T. di Hall Politeknik Negeri Madiun. Turut hadir pula para direktur dan staff direksi Politeknik Negeri Madiun serta beberapa perwakilan mahasiswa baru dari berbagai program studi PNM.
Salah satu perwakilan mahasiswa baru yang hadir pada acara pembukaan mengatakan, “Saya senang bisa menjadi perwakilan di Pembukaan PKKMB hari ini karena saya akan menjadi keluarga baru di Politeknik Negeri Madiun,” Nana Ainiya Khalida yang merupakan mahasiswa baru Program Studi D3 Mesin Otomotif.
Selain itu, mahasiswa baru juga sudah mulai berkenalan dengan teman-teman seangkatannya. “Sudah lumayan banyak berkenalan dengan mahasiswa baru dari jurusan lain, tetapi kurang lebih hanya sebatas nama dan asal daerahnya saja. Sama ngobrol-ngobrol sedikit.” ucap Firman Muhamat Ridhoi yang merupakan mahasiswa baru dari Program Studi D4 Perkeretaapian.
Beberapa organisasi mahasiswa seperti Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), dan Himpunan Mahasiswa Prodi (Hima Prodi) juga ikut serta dalam monitoring PKKMB daring ini.“Teknisnya pihak BEM menentukan 5 orang untuk menjadi monitoring di setiap prodinya. BEM, DPM dan HMJ akan dipilih satu orang sebagai perwakilan, sisanya dari hima prodi. Anggota BEM yang lain akan terbagi untuk menjadi pendamping dosen dan narasumber,” ungkap Hesti selaku koordinator PKKMB.
Pihak panitia juga mendapatkan respon baik dari mahasiswa baru, terkait informasi hingga beberapa panduan yang mereka berikan. “Panitianya baik semua, ramah, dan mengarahkan dengan jelas” kata Nana Ainiya. “Panitianya humble sih, kak. Enak” kata Firman Muhamat.
Mereka berharap semoga PKKMB daring yang akan dilaksanakan 3 hari ini berjalan dengan lancar dan membantu maba lebih mengenal kampus barunya. Alih-alih dengan daring seperti ini, mereka juga akan membangun networking (jaringan) yang lebih luas dengan teman seangkatannya.
PKKMB ini merupakan kegitan rutin PNM yang diselenggarakan setiap tahun. Tujuannya tak lain untuk mengenalkan kehidupan kampus. “Harapannya yaitu semoga PKKMB ini dapat menjadikan maba tidak lupa akan jiwa nasionalis dan cinta tanah air walaupun menghadapi era digital yang sifatnya tanpa batas serta semakin kreatif di dunia industri revolusi 4.0. Karena era saat ini lebih mudah secara segi materi tidak seperti cara yang konvensional. Agar ketika libur pandemi ini dapat belajar hal baru.” Ujar Pak Tosan.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, PKKMB tahun ini diisi dengan kegiatan-kegiatan yang edukatif, dengan menghadirkan pemateri dari luar. Seperti Dandim 0803, MUI Kota Madiun, Kemendikbud, BNBD dan Kapolresta. PKKMB ini juga berisi pengenalan sistem akademik hingga pengenalan jurusan dan program studi. Acara ini akan ditutup dengan pengukuhan mahasiswa baru pada Kamis (27/ 08/ 2020).
Penulis : Ratriana Lia, Fifiana Astitining Tiyas dan Fadhilah Gatya Putri
Editor : Winda Eka Rachmawati

Read More

Proklamasi Kemerdekaan tak Luput dari Peran Tokoh Perempuan

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2020, Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia yang ke-75. Artikel kali ini akan membahas sedikit mengenai sejarah Indonesia merdeka. Yuk langsung kita simak pembahasannya!

Pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sangat besar peran Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta sehingga mereka diangkat menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama. Tak hanya mereka berdua, banyak pahlawan yang berperan penting dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka. Salah satu dialog sang proklamator yang tidak boleh kita lupakan yaitu jas merah (jangan sekali-sekali melupakan sejarah). Seakan-akan menyampaikan pesan tersurat bahwa kita sebagai generasi penerus bangsa tidak boleh melupakan perjuangan para tokoh pejuang bangsa untuk memperoleh kemerdekaan Republik Indonesia.

Apa yang akan terjadi sekarang ini apabila dahulu para pejuang bangsa tidak berjuang merebut kemerdekaan? Mungkin saat ini kita masih dibawah tangan para penjajah. Tokoh yang berperan penting dalam kelancaran proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 itu tidak hanya lelaki, namun proklamasi tidak lepas dari peran beberapa tokoh perempuan. Berikut beberapa tokoh perempuan penting dalam proklamasi kemerdekaan RI :

Surastri Karma Trimurti

S.K. Trimurti merupakan istri dari Sayuti Melik. Ia merupakan seorang wartawan, ia aktif menyuarakan nasionalisme melalui tulisan dan bergabung dengan partai politik “Partai Indonesia”. Ia mencintai jurnalistik berkat Ir. Soekarno. Tulisan Trimurti pernah dimuat dalam koran Fikiran Rakjat pada tahun 1933. Ia beberapa kali mendirikan majalah dan surat kabar. Ia pernah ditangkap pemerintah kolonial Belanda karena tulisannya dirasa menyudutkan penjajah. Ia juga berurusan dengan otoritas militer dan mendekam di penjara Blitar pada zaman penjajahan Jepang. Dilansir dari laman www.femina.co.id, 14/8/2020.

S.K. Trimurti ikut menghadiri proklamasi kemerdekaan RI dan dirinya diminta untuk mengibarkan bendera Sang Merah Putih. Akan tetapi, pada saat itu, ia menolak karena ia hanya memakai pakaian kebaya dan kain jarik. Oleh karena itu, untuk menggantikannya, ia mengusulkan pemuda dari Pembela Tanah Air (Peta) yang bernama Latief Hendraningrat. Setelah Indonesia merdeka, ia menjadi Menteri Perburuhan pertama di Kabinet Amir Syarifuddin pada tahun 1947-1948 dan juga sebagai seseorang menteri perempuan pertama kali.

Fatmawati

dari laman tirto.id, 17/8/2020, Pada Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, beberapa tokoh perempuan hadir, seperti Fatmawati, S.K. Trimurti, serta beberapa mahasiswi Sekolah Perobatan (Yaku Gaku) dan Sekolah Tinggi Kedokteran (Ika Daigaku). Fatmawati aktif berorganisasi sejak muda. Ia menjadi pengurus organisasi wanita Muhammadiyah dan Nasyiatul Ausyiah. Ia merupakan istri dari Ir. Soekarno, ia setia mendampingi Soekarno dalam kegiatan perjuangan meraih kemerdekaan. Ia adalah seorang yang menjahit bendera Indonesia yang pertama kali untuk dikibarkan pada saat proklamasi kemerdekaan RI.

Sukarno membentuk Barisan Berani Mati untuk mempertahankan kemerdekaan. Banyak orang yang datang ke rumah mereka di jalan Pegangsaan Timur nomor 56 untuk mendaftarakan diri. Berdasarkan buku berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” karya Cindy Adams disebutkan bahwa Fatmawati membangun dapur umum untuk memberi makan ratusan orang dari gelombang pertama yang membentuk benteng manusia sekeliling Pengangsaan Timur 56. Fatmawati juga menjaga dan merawat Sukarno yang tengah sakit di masa-masa genting proklamasi kemerdekaan RI. Dikutip dari www.femina.co.id, 14/8/2020.

3. Etty Abdurrachman

Etty Abdurrachman merupakan anggota Pemuda Putri Indonesia. Dua hari sebelum proklamasi, di rumah Sutan Sjahrir, ia dan kawannya mendengarkan penjelasan Sutan Sjahrir mengenai pengumuman penyerahan Jepang kepada Sekutu dan harus segera menyelenggarakan proklamasi. Sjahrir juga mengatakan bahwa jika setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan dan Sekutu datang untuk mengambil alih kekuasaan, maka para pemuda akan berdemonstrasi untuk menentangnya.

Etty yang sebagai mahasiswi bersama kawan lainnya turut hadir di pelataran rumah Soekarno di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 tepat pada 17 Agustus 1945. Dalam Aku Ingat: Rasa dan Tindak Siswa Sekolah Kolonial di Awal Merdeka Bangsa (1996: 1), Etty memaparkan bahwa tanggal 17 Agustus 1945, suasananya tenang, orang di pekarangan tidak banyak, orang yang mendengar Proklamasi Kemerdekaan bertepuk tangan, tidak ribut, tidak meriah, sopan dan tenang. Dia juga memaparkan bahwa dirinya terharu dan perasaannya bercampur aduk. Dilansir dari laman tirto.id, 17/8/2020.

4. Satsuki Mishima

Menjelang dini hari, tersiar kabar bahwa pengumuman kemerdekaan akan diselenggarakan di lapangan IKADA (Ikatan Atlelit Indonesia) pada jam 10 pagi setelah Chairul Saleh datang ke asrama Prapatan 10 dengan membawa naskah proklamasi. Naskah proklamasi itu sebelumnya masih berupa konsep tulisan tangan yang ada banyak coretan, masih harus dikoreksi dan ada perubahan yang telah disetujui. Sayuti Melik kemudian diminta untuk mengetik naskah. Akan tetapi, saat itu, tidak terdapat mesin tik yang bisa dipakai. Satsuki Mishima, pembantu rumah tangga di rumah Laksamana Tadashi Maeda, diminta untuk meminjam mesin tik ke kantor Militer Jepang. Berkat bantuan Mishima, Sayuti kemudian dapat mengetik naskah Proklamasi.

Satsuki Mishima memasak makanan untuk para pendiri bangsa yang berkumpul di rumah Maeda. Peristiwa proklamasi bertepatan dengan bulan Ramadan. Mishima membuatkan nasi goreng untuk makan sahur Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Subardjo. Dilansir dari laman tirto.id, 17/8/2020.

 

 

Penulis : Winda Eka dan Ratriana Lia

Editor : Kistia Meilani Sanda

tumblr_mf8pwsmFEv1qk46vzo1_1280

Balada Nasi Basi

Rohman memarkirkan motor tuanya dengan hati-hati. Ia segera mematikan mesin motornya. Alih-alih takut jika tetangga di sekelilingnya terbangun. Mengingat jika malam sudah cukup larut. Di ujung sebuah gang sempit di pinggiran ibu kota, terdapat sebuah bangunan yang ia sebut sebagai istana. Bangunan tersebut sederhana dan jauh dari kata mewah. Namun layak untuk jadi tempat tinggal dan masih pantas untuk Rohman sebut nyaman.

Usianya baru dua puluh satu tahun. Namun di usia yang terbilang masih muda itu, ia sudah nekat untuk mengadu nasib di ibukota. Terhitung sudah dua tahun ini ia tinggal di Jakarta. Karena latar pendidikan yang hanya lulusan sekolah menengah atas, maka pekerjaaan yang ia dapat hanyalah sebagai office boy di sebuah perusahaan yang gajinya lumayan untuk biaya makan sehari-hari dan menyambung hidup di kota metropolitan. Baginya itu lebih baik daripada harus mengemis atau melakukan tindak kriminal demi mendapat uang. Apalagi di era modern ini sangatlah susah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Ya, wajah ibu kota metropolitan di layar kaca tidak seindah dengan kenyataan yang ia jalani.

Beberapa hari ini Rohman harus pulang agak malam. Hal ini dikarenakan ada rapat penting di kantornya. Setiap rapat ia akan menunggu di ruangannya sambil merebahkan diri. Jika rapat selesai, barulah ia mulai bekerja. Menata kursi-meja, membersihkan cangkir-cangkir kopi bekas para petinggi, mengangkut sampah, dan membuang bekas sisa-sisa konsumsi. Meskipun setiap rapat selalu ada sisa dus-dus makanan yang berlebih. Entah karena memang sengaja dipesan berlebih atau karena ada beberapa manager yang tidak menyentuhnya sama sekali, tak jarang ia mengintip dus-dus yang ada di meja. Barangkali ada sisa makanan yang dapat ia bawa pulang. Jelas bagi seorang office boy seperti Rohman akan sangat menguntungkan sebab ia harus giat menabung  untuk keluarganya di kampung serta adiknya yang masih bersekolah. Hari ini sisa empat dus nasi kotak dan beberapa kudapan. Lebih dari cukup untuk ia makan malam ini dan besok pagi. Dua untuk hari ini, dua untuk besok pagi, dan beberapa jajan akan segera ia makan nanti. Setelahnya, ia pulang menenteng empat dus makanan tersebut dan kudapan yang ia dapat tadi.

Setibanya di rumah, tercium bau busuk dari dalam. Bau khas nasi basi yang menyengat. Bau tersebut berasal dari sisa nasi kemarin yang belum sempat ia buang. Akhir-akhir ini Rohman memang sering membawa makanan dari kantornya. “Sudah waktunya dibuang,” pikir Rohman. Dengan berat hati ia membereskan sisa makanan tersebut dan memasukannya ke sebuah kantong plastik lalu meletakkannya ke tumpukan sampah di pojok depan rumah. Hal itu dilakukannya agar baunya tidak menganggu tetangga. Ia pun masuk kembali ke dalam rumah dan menyantap makanan yang sudah ia bawa dari kantor. .

***

Pagi-pagi, bau busuk kembali tercium. Rohman mencari dari mana asal bau tersebut. Usut punya usut, bau tersebut berasal dari makanan yang semalam sengaja ia sisihkan. Rencananya nasi itu akan ia makan sebagai sarapan. Namun sayang hal tersebut gagal karena makanan yang sudah keburu basi.

“Dibuang lagi kan.” Dibawanya tumpukan dus itu ke tempat sampah.

Saat Rohman keluar untuk membuang sampah, seorang anak mengendap-endap dan memungut bungkusan yang ia buang semalam. Anak laki-laki itu kedapatan tengah memakan nasi basi yang ada di dalam bungkusan tersebut. Rohman penasaran. Lantas ia mendekati anak tersebut.

“Ampun Bang, ampun! Saya nggak nyuri! Jangan bawa saya ke polisi, Bang! Ampun!” teriak anak kecil pemungut nasi dengan ketakutan. Dirinya merasa ‘disergap’. Padahal Rohman hanya menepuk pundaknya. Namun segera ia menurunkan volumenya ketika Rohman menempelkan telunjuk di mulutnya agar anak tersebut diam sebab khawatir jika tetangga akan merasa terganggu.

“Ampun Bang. Saya pikir itu sudah dibuang, Bang.”

“Sudah, kamu nggak usah takut begitu. Lagi pula itu kan tidak sehat. Kenapa kamu makan?” Anak itu masih saja diam ketakutan. “Sini, ikut saya,” kata Rohman sambil menarik anak tersebut menuju teras rumahnya. “Kamu tunggu di sini ya. Saya beli makanan dulu.”

Awalnya anak itu ragu, namun ia menurutinya juga. Beberapa menit kemudian, Rohman datang membawa dua bungkus nasi uduk lengkap dengan teh hangat. “Makanlah!” Rohman menyerahkan satu bungkus kepada anak tersebut. Mereka berdua kemudian makan bersama.

“Kamu kenapa makan nasi basi itu?” tanya Rohman di sela-sela mereka makan. “Saya lapar Bang. Di rumah, emak masaknya kurang. Adik saya kalo lapar ngeluhnya nggak konsentrasi belajar. Apalagi sekarang lagi ulangan. Saya kasihan Bang.” Udin, biasa anak itu disapa, merupakan sulung dari dua bersaudara. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci. Sementara ayahnya sudah meninggal setahun yang lalu. Adik kecilnya, Nani, masih berusia 10 tahun dan duduk di bangku sekolah dasar. Udin terpaksa putus sekolah saat ia kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kesehariannya yaitu bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Kadang juga berkeliling menjajakan tisu di lampu merah atau dari satu kompleks perumahan ke kompleks perumahan lainnya. Semua itu dilakukannya demi membantu membiayai keluarga. “Tapi saya nggak pernah nyolong Bang. Selagi saya diberi sehat, saya bakal berusaha semampu yang saya bisa.”

Rohman semakin bersimpati dan kagum terhadap Udin. Sungguh perjuangan dan pengorbanan yang sangat besar dan patut diteladani dari seorang anak laki-laki yang tidak sengaja ia temui. Mendengar ucapan Udin tadi, Rohman menyadari jika hidup merupakan perjuangan yang tiada hentinya dan terkadang harus melawan ego, hawa, dan  nafsu diri sendiri. Sarapan kali ini meninggalkan kesan yang mendalam baginya dan mungkin hal itu juga dirasakan oleh Udin.

 

Balada Nasi Basi

Larut di bawah sinar rembulan, lelaki muda masih giat menyelami malam, mengais sisa para petinggi berdasi jabatan

Jatah yang tak seberapa namun cukup mengganjal beban derita

Dimakannya lahap, tak peduli jika itu bekas, baginya rasa bak bintang lima

Lalu ia sisakan satu untuk penyambung hidup esok

Sayang, fermentasi asa sudah terlanjur, bentuk utuh nan konyol pengganti sempurna, rasa dan karsa nasi basi

Dibawanya ia menuju tempat pembuangan

Namun manusia lain menganggapnya sebagai berkah, menyelami rasa yang terbuang, terasa nikmat dalam khidmat nada kelaparan

Balada nasi basi, bersahabat erat dengan kehidupan sehari-hari, yang dibuang tanpa arti, yang dinanti insan lain

Dan semua sarat akan makna, tentang rajutan peluh tanpa keluh, demi sesuap pemenuh hasrat

Sumber foto : Google

Mengingat Peristiwa pada 8 Agustus 1945

                                   Ada Apa Tanggal Ini?
Mengingat Peristiwa pada 8 Agustus 1945

FEED1_compress45
Hallo sahabat Plasmers… Yuk kita ulik dan bahas apasih yang terjadi pada 8 Agustus 1945? Nah jadi pada tanggal ini terjadi dua peristiwa penting yang menorehkan sejarah kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Yang pertama yaitu Kekalahan Telak Jepang. Pada 8 Agustus 1945, Uni Soviet/Rusia yang saat itu dipimpin oleh Stalin, telah mengumumkan dan menyatakan perang terhadap Jepang. Pasukan Uni Soviet kemudian menyerang Manchuria, yang terletak di timur China. Uni Soviet dan Jepang sebelumnya telah menandatangani perjanjian non-agresi. Namun, setelah Sekutu mengebom kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945, Jepang pun bersiap untuk menyerah. Uni Soviet menggunakan kesempatan ini untuk merebut beberapa wilayah kekuasaan Jepang. Kemudian disusul pengeboman di kota Nagasaki, pada 9 Agustus 1945. Bom tersebut meledak dengan sangat dahsyat, hingga diperkirakan menelan korban kurang lebih 70.000 – 80.000 jiwa penduduknya.
Pada bulan selanjutnya, banyak orang tewas karena efek luka bakar, penyakit radiasi, dan cedera lain disertai sakit dan kekurangan gizi. Di dua kota tersebut, sebagian besar korban tewas merupakan warga sipil meskipun terdapat garnisun militer besar di Hiroshima. Kaisar Hirohito (Showa) menyatakan menyerah tanpa syarat kepada tentara sekutu pada 14 Agustus 1945. Penyerahan tanpa syarat tersebut, membuat pemimpin Indonesia pada saat itu kebingungan lantaran Jepang adalah kandidat terkuat dalam memenangkan peperangan. Ambruknya pertahanan dan komunikasi Jepang menjadi bulan-bulanan pertengkaran tahun 1945, yang mengakibatkan suatu perubahan drastis dalam lajur persiapan kemerdekaan Indonesia.
Kemudian yang kedua yaitu peristiwa Tegang Menuju Vietnam. Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat oleh pemerintah militer Dai Nippon/Jepang dianggap sebagai tiga tokoh penting serta berpengaruh bagi rakyat Indonesia. Ketiganya juga merupakan personil utama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). PPKI sebenarnya sudah dibentuk sejak 7 Agustus 1945, namun rinciannya akan ditegaskan di Dalat nanti. Misi menegangkan ke Vietnam dimulai pada 8 Agustus 1945 jelang tengah malam. Penerbangan ke Dalat sengaja dilakukan secara rahasia lantaran gentingnya situasi kala itu. Memang, waktu tempuhnya tidak terlalu lama via jalur angkasa, tapi amat berbahaya. Pesawat Sekutu sewaktu-waktu bisa datang untuk menyerang.
Dari Bandara Kemayoran, pesawat yang membawa tiga bapak bangsa Indonesia dengan kawalan beberapa perwira Jepang itu tidak langsung ke Vietnam. Tanggal 9 Agustus 1945 pagi, pesawat mendarat di Singapura untuk singgah sejenak sembari memantau situasi. Keputusan transit sehari di negeri singa ternyata pilihan yang tepat. Di hari yang sama, kota Nagasaki di Jepang dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat, mengulang kejadian serupa yang telah menimpa Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Perjalanan diteruskan pada esok hari pada 10 Agustus 1945. Beberapa jam kemudian, tibalah pesawat yang menopang nasib bangsa Indonesia tersebut di Saigon (sekarang bernama Ho Chi Minh), Vietnam dengan selamat. Jarak antara kota terbesar di Vietnam itu menuju ke Dalat sekitar 300 kilometer ke arah utara.
Tanggal 11 Agustus 1945, perjalanan dilanjutkan ke Dalat dan tiba di hari yang sama. Soekarno, Hatta, dan Dr. Radjiman beserta rombongan harus menunggu keesokan hari sesuai jadwal pertemuan dengan Marsekal Terauchi. Perjumpaan dengan pimpinan militer tertinggi Jepang untuk kawasan Asia Tenggara itupun terjadi pada 12 Agustus 1945. Marsekal Terauchi yang juga anak sulung Perdana Menteri Jepang Terauchi Mastake, membeberkan alasan mengapa memanggil Soekarno, Hatta, dan Radjiman ke Dalat. Kepada Bung Karno dan kawan-kawan, Terauchi mengaku bahwa pihaknya memang sedang diujung tanduk. Leburnya Hiroshima dan Nagasaki, serta rentetan kekalahan di sejumlah front Perang Asia Timur Raya menjadi pertanda kuat bahwa Jepang tak lama lagi bakal takluk.
Maka kata Marsekal Terauchi, Indonesia harus segera bersiap-siap merdeka, dan itu menjadi tugas Soekarno, Moh. Hatta, dan Dr. Radjiman, serta anggota PPKI untuk mempersiapkannya. “Kapanpun bangsa Indonesia siap, kemerdekaan boleh dinyatakan,” janji Marsekal Terauchi. Menurutnya, perlu waktu untuk melakukan berbagai persiapan sebelum proklamasi kemerdekaan diwujudkan. Bung Karno dan kawan-kawan tampaknya setuju dengan tawaran kemerdekaan dari Jepang tersebut. Moh. Hatta bahkan sempat mengungkapkan perasannya atas janji Marsekal Terauchi itu. Setelah jamuan makan dan acara minum teh bersama, pertemuan itu pun diakhiri. Soekarno, Moh. Hatta, dan Dr. Radjiman bersiap pulang. Mereka tidak sabar mengabarkan hasil kesepakatan dengan Marsekal Terauchi yang berisi janji kemerdekaan untuk bangsa Indonesia. Di tanah air nanti, justru muncul rangakaian polemik sebelum Indonesia benar-benar merdeka 17 Agustus 1945. Kemerdekaan ini bukanlah hadiah dari Jepang seperti yang dijanjikan Marsekal Terauchi serta sempat diterima dengan senang hati oleh Bung Karno dan kawan-kawan.

Penulis : Dela Damayanti

Dari Hindia Hingga Nusantara, Ini Sejarah Awal Nama Indonesia

Feed2 Slide5

Tahukah kamu nama Negara Indonesia ternyata memiliki sejarah yang sangat panjang. Bahkan sempat berganti nama sampai lima kali hingga akhirnya disahkan saat pembacaan teks sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928. Nama Indonesia tidak langsung diperoleh tanpa usaha dan kerja keras, sama seperti kemerdekaan. Para tokoh penggerak juga berjuang untuk mendapatkan hak pengakuan di mata dunia.

Asal-usul nama Indonesia ternyata sudah ada jauh sebelum para penjajah datang ke negeri ini. Nama Indonesia mulai dikenal pada pertengahan tahun 1800-an. Saat itu salah seorang sejarawan Oxford University bernama Peter Carey mengatakan nama Indonesia muncul dan diperkenalkan oleh James Richardson Logan pada tahun 1850 dalam Journal of Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA).

Sedangkan masyarakat pribumi mulai mengenal nama Indonesia dari tokoh pendidikan bernama Suwardi Suryaningrat atau lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara. Pada 1913 saat dirinya diasingkan ke Belanda ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau. Kemudian pada tahun 1920-an nama Indonesia diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan, sehingga memiliki makna politis sebagai identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaannya.

Namun tahukah Anda sebelum nama Indonesia lahir ternyata bangsa ini telah berganti nama hingga lima kali. Penasaran apa saja? Simak ulasannya berikut ini:

 

Hindia

Nama Indonesia berasal dari bahasa Yunani, yakni Indo dan Nesie yang artinya kepulauan Hindia. Nama ini kemudian makin terkenal setalah bangsa Portugis yang saat itu dibawah pimpinan Vasco da Gama menemukan pulau ini dengan cara menyusuri sungai Indus sekitar tahun 1498 Masehi. Melansir dari Liputan6, nama Hindia tersebut merupakan istilah yang dikenalkan oleh Herodotus, seorang ahli ilmu sejarah berkebangsaan Yunani yang dikenal dengan Bapak Ilmu Sejarah. Namun nama Hindia baru digunakan setelah dikenalkan oleh Ptolomeus (100-178 SM), seorang ahli ilmu bumi yang terkenal.

 

Nederlandsch Oost-Indie

Nama ini diberikan oleh orang-orang Belanda yang dulu sempat berkuasa di tanah air. Sejak akhir abad ke-18 orang Eropa menyebut Indonesia dengan nama tersebut, yang berarti wilayah jajahan Belanda. Nama ini kemudian dikenal sebagai Hindia Belanda atau Hindia Timur Belanda. Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) membentuk Hindia Belanda sebagai hasil dari nasionalisasi koloni-koloni di bawah pemerintahan Belanda.

Insulinde

Nama Insulinde kali pertama dicetuskan oleh Douwes Dekker, seorang penulis asal Belanda dalam bukunya yang berjudul Max Havelaar pada tahun 1860. Nama Insulinde berasal dari Bahasa latin yang merujuk pada kata Insulair, Insula dan Indus yang berarti pulau Hindia. Pria bernama asli P.J. Veth Multatuli menggagas nama Insulinde karena merasa jengkel dengan julukan Nederlandsch Indie yang diberikan negaranya kepada Indonesia. Ia turut menyaksikan pula perlakuan buruk para penjajah terhadap penduduk pribumi.

 

The Malay Archipelago

Nama lain yang pernah diberikan untuk Indonesia selanjutnya adalah The Malay Archipelago. Menurut dari salah satu sumber, nama itu diberikan oleh Alfred Russel Wallace, seorang penjelajah sekaligus ilmuwan asal Inggris. Ia menjuluki kawasan Malaysia, Singapura, dan Kepulauan Indonesia sebagai The Malay Archipelago. Nama ini digagas pada pertengahan abad ke-18 dengan makna pulau-pulau Melayu yang menguasai lautan.

 

Nusantara

Istilah Nusantara mungkin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Bukan hanya julukan, Nusantara memang dulunya pernah menjadi nama untuk menyebut Indonesia. Jauh sebelum munculnya keempat nama di atas, julukan Nusantara sudah digagas oleh Kerajaan Majapahit sejak abad ke-12. Nusantara kala itu adalah sebutan untuk wilayah kekuasaan Majapahit di luar Pulau Jawa, yang membentang dari ujung barat Sumatera hingga ke bagian timur di Papua.

Istilah Nusantara disebutkan oleh Mahapatih Gadjah Mada dalam Sumpah Palapa, dan tercantum dalam Kitab Negarakertagama. Selain itu istilah Nusantara juga ditemukan di perpustakaan India Kuno, yang berarti pulau-pulau yang berada di antara be

 

berapa benua.

#Gplasma

#GetTheRealNews

#KontenGplasma

#Kemerdekaan

#DivisiReporter

115926986_1167336416966855_8292936789032382408_n

New Normal: Apakah Indonesia Sudah Aman?

 Ancaman virus mematikan, Covid-19 (Coronavirus disease 2019), yang menimpa Indonesia kian menjadi-jadi. Segala cara dilakukan pemerintah agar Covid-19 dapat teratasi. Karena virus tersebut banyak sektor pengemban ekonomi negara ini dapat dikatakan surut. Banyak masyarakat yang bertanya-tanya, apakah Indonesia sudah aman dari Covid? Semua akses kegiatan keluar rumah dibatasi, semua pun dilarang keluar rumah. Grafik yang terus naik membuat masyarakat semakin khawatir. Sanksi pidana jika tidak menggunakan masker pun dilayangkan agar masyarakat menaati protokol kesehatan yang telah dikeluarkan pemerintah. Bisikan-bisikan kata new normal semakin menjadi-jadi, padahal grafik semakin memuncak. Covid-19 harus dihindari tetapi ekonomi juga harus berjalan, itulah yang membuat warga tetap beramai-ramai keluar rumah. Hal ini juga membuat bualan-bualan netizen ramai dan geger di sosial media. Pabrik, mall, dan sebagian sektor ekonomi mulai beroperasi lagi walaupun semuanya bekerja dalam shift yang lebih singkat. Tau gak sih apa aja budaya selama masa new normal ini?

Bentuk nyata kesadaran disiplin dalam new normal, di antaranya adalah budaya antre. Memang dalam situasi sekarang ini, tanpa disadari masyarakat sudah mulai terbiasa dengan antrean yang terasa lebih lambat dan panjang dari biasanya dikarenakan adanya pemeriksaan suhu badan di setiap toko dan batas-batas antrean pengunjung berkisar antara 1-2 meter. Tidak hanya toko, swalayan dan mall besar pun telah mematuhi  protokol kesehatan yang berlaku, hal ini untuk mencegah adanya orang yang berpotensi menulari pengunjung lainnya.

Walaupun semua protokol telah ditetapkan, banyak juga diketahui sejumlah gejala-gejala baru yang beredar tentang Covid-19 yang membuat grafik menjadi melonjak. Konspirasi-konspirasi pikiran mencuat, apakah Indonesia benar-benar sudah aman? Daerah yang mulanya zona hijau bisa jadi kuning, yang mulanya kuning bisa menjadi zona merah bahkan hitam. Bahkan yang semula hijau bisa jadi besoknya sudah jadi kuning lagi. Karena sekarang proses tumbuh kembang Indonesia sedang tidak baik-baik saja maka kita sebagai warga negara perlu mendukung upaya pemerintah dalam pemberlakuan era new normal ini. Berikut beberapa kebiasaan yang mulai muncul pada era new normal :

  1. Social Distancing

Jika di mall dulunya pengunjung selalu berebut antrean bahkan berdesak-desakan sekarang mereka sudah terbiasa dengan antrean yang lebih panjang karena adanya pembatasan antar customer. Nah, kita harus mengikuti era ini nih selain kita jauh dari Covid-19 kita juga lebih tertata dan rapi.

  1. Bersepeda

Pemerintah mengajurkan agar selalu menjaga kesehatan ketika Covid-19 mencuat. Awalnya hanya 1-3 orang yang melakukan kegiatan bersepeda tetapi tetap menjaga protokol kesehatan. Nah, bisa dilihat nih sekarang sedang ramai-ramainya kehidupan bersepeda yang semakin up to date. Walaupun harga sepeda sekarang ini sedang tinggi-tingginya, tetapi tidak membuat minat masyarakat membeli sepeda menurun. Bersepeda bersama sekarang menjadi kebiasaan new normal di Indonesia. Untuk yang hobi bersepeda atau baru mulai bersepeda di era ini, jangan lupa tetap patuhi protokol kesehatan ya!

  1. Pengecekan Suhu Tubuh

Dikatakan gejala Covid-19 terdapat suhu khusus. Setiap toko, mall, pabrik, bahkan tempat kerja yang memiliki jumlah pegawai/karyawan relatif banyak telah memberlakukan protokol kesehatan. Dimulai dengan adanya antrean pengecekan suhu tubuh di depan pintu masuk.

Selalu jaga kesehatan ya, teman-teman. Perlu tingkatkan adanya kesadaran diri untuk patuh terhadap himbauan dan aturan yang telah dikeluarkan agar dapat memutus rantai penularan Covid-19.

Be Happy, Stay Healty and Happy Weekend Everyone

Mari bersama putus rantai Covid-19, Bersama Indonesia Bebas Covid-19

Gplasma- get the real news

-Divisi fotografer-

-2020-

Divisi fotografer-

-2020-

timaki-min

Mahasiswa TKA Asal PNM yang Tetap Raih Prestasi ditengah Pandemi COVID19

                 Galang Dafa Yudhiatma, Ryan Ravanelly, dan Azizah Qory Hermawan , mahasiswa Teknik Perkeretaapian asal Politeknik Negeri Madiun (PNM) yang berhasil memperoleh juara 3 pada perlombaan LAI2 COVID-19. LAI2 COVID  19 merupakan lomba online dengan tema Aplikasi Inovatif dan Inspiratif untuk COVID 19 di Indonesia yang diselenggarakan oleh Direktorat Kemahasiswaan ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember). Lomba yang dimulai pada tanggal 22 April sampai 22 Juli 2020 kemarin memiliki beberapa kendala. Misalnya saja, mulai dari pengumpulan sampai pengumuman juara mengalami keterlambatan yang disebabkan karena beberapa juri disana masih disibukkan dengan penyelenggaraan UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer).

            Awalnya, lomba yang diperoleh dari informasi dosen di grup WhatsApp tersebut belum menarik minat mereka untuk mengikuti lomba. Hal tersebut dikarenakan mereka masih ragu  karena belum mempunyai ide dan gambaran apapun tentang lomba LAI2 COVID 19. Akan tetapi, karena saran dari dosen yang mengatakan untuk ikut agar menjadi pengalaman dan menambah wawasan untuk mereka, membuat mereka ingin mengikuti lomba tersebut. Setelah memiliki keinginan untuk mengikuti lomba, mereka langsung mencoba menghubungi dosen agar membimbing mereka. Kemudian, mereka segera merancang fullpaper hanya dengan waktu seminggu.

            “Ingin mencoba sesuatu hal yang baru dan mencari pengalaman tentang lomba – lomba dijenjang mahasiswa”, ujar Galang sebagai motivasi untuk mengikuti lomba. Setelah mengikuti lomba tersebut tentunya menambah pengalaman bagi mereka. Seperti halnya, mereka lembur sampai dini hari akibat mengejar deadline lomba, dipaksa untuk berpikir kritis, dan dituntut untuk belajar hal yang baru. Galang mengatakan kesannya setelah mengikuti lomba tersebut yaitu “Santai tapi serius, karena dikerjakan secara online tetapi juga dituntut untuk serius dan juga masih tidak menyangkan jika akan menjuarai lomba tersebut dikarenakan lawan dari lomba tersebut berasal dari angkatan 2017 dan 2018”.  Galang berpesan kepada mahasiswa PNM agar jangan takut mencoba, kita semua sama.

Pengenalan Divisi Design dan Layout

feed1


 

Divisi Design dan Layout mungkin masih asing untuk kebanyakan orang, ya… divisi ini biasanya digabung dengan Divisi Kominfo. Lalu apa sih Divisi Design dan Layout itu sendiri? Divisi yang memiliki tanggung jawab membuat sebuah design yang membentuk rancangan yang komunikatif serta susunan artistik. Sebuah design dibuat dengan penyusunan dari elemen gambar dan teks yang berhubungan ke dalam sebuah bidang dalam rangka mewujudkan komunikasi verbal menjadi komunikasi visual agar semua informasi tepat sasaran, singkat, padat, jelas sehingga lebih menarik perhatian audiens.
Selain membuat sebuah design, Divisi Design dan Layout dalam UKM Pers G-Plasma memiliki tugas dan wewenang diantaranya :
a. Mengkoordinir desain, melaksanakan layout, buletin, dan majalah UKM Pers G-PLASMA.
b. Membuat ilustrasi rubrik-rubrik buletin dan majalah G-PLASMA serta merawat inventaris yang berhubungan dengan layout.
c. Memberikan pemahaman terhadap setiap anggota UKM Pers G-PLASMA mengenai hal-hal layout yang diperlukan G-PLASMA.
d. Bertanggung jawab atas pengadaan dan pengelolaan bidang layout dalam pengerjaan buletin dan majalah kepada Pemimpin Redaksi.
e. Koordinator Lay Out berhak menunda atas izin Pemimpin Redaksi apabila dalam proses penglay-outan berita belum diedit sepenuhnya.
f. Koordinator Lay Out diwajibkan menyelesaikan layout maksimal satu minggu setelah semua berita selesai di edit oleh bagian Editor.
g. Koordinator Lay Out berhak mendesak pemimpin redaksi untuk mempercepat proses editing setelah melewati deadline.

Yuk belajar design bareng Divisi Design dan Layout G-Plasma!!
Bisa tidak ya aku jadi Desainer?
Menganggap belajar design itu sulit adalah tidak benar. Karena sudah banyak bermunculan software desain yang mudah dioperasikan. Tidak hanya itu, berbagai kelas pelatihan belajar design pun bisa kita ikuti guna mengasah kemampuan dalam pembuatan karya. Mulai dari kelas berbayar hingga gratis. Mempelajari Desain grafis kini sudah menjadi sebuah hal yang lumrah di era digital ini. Belajar design membutuhkan kemauan dan semangat yang tinggi agar belajar itu menjadi mudah. Design tidak hanya digunakan untuk menunjukkan kreatifitas namun bisa digunakan sebagai karier. Di masa content driven seperti sekarang, tentunya membuat desain grafis yang menarik untuk marketing merupakan sebuah kebutuhan branding mulai dari logo, brosur, kartu nama, dan web yang menarik.
Untuk itu, kita perlu belajar mengenai desain grafis. Inilah langkah yang perlu dimulai :

1. Mengetahui pengetahuan dasar atau basic dari desain itu sendiri. Ada 3 prinsip dasar design, diantaranya :

• Tipografi : gaya kata yang tertulis, semua format teks melibatkan tipografi.

• Hierarki : ini membantu membimbing mata pembaca di mana untuk memulai dan di mana untuk mengakhiri.

• Warna : kedudukan warna sangat penting untuk nuansa estetika sehingga memberikan kesan menarik.

2. Belajar mengoperasikan software design grafis mudah untuk dipelajari dan cocok bagi pemulaSoftware untuk berbasis vektor adalah Coreldraw dan Adobe Illustrator, sedangkan untuk yang berbasis bitmap adalah Adobe Photoshop. Untuk lebih praktis dioperasikan di ponsel bisa menggunkan Canva. Selain itu pelajari tools yang ada dan istilah design melalui internet, mulai dari font, color palate, kerning, white space, alignment, hierarchy, background, foreground, dan banyak lagi istilah lainnya.

3. Berlatih dan Mengumpulkan design yang menginspirasi untuk menciptakan ide design

Setelah mengetahui teknis menggunakan software desain grafis maka perbanyaklah berlatih. Latihan bisa dimulai dengan meniru hasil design orang lain, semakin mirip hasil maka Anda sudah mulai mahir. Untuk lebih mudah bisa belajar melalui Tuts+ Design dan Youtube dengan setiap langkahnya. Setelah itu lanjutkan membuat design dengan ide sendiri. Cara cepat mendapatkan ide adalah dengan banyak melihat referensi desain dari internet.

4. Menerima Kritik dan Saran
Setelah design berhasil dibuat, langkah berikutnya adalah mendapatkan kritik yang membangun dari desainer yang lebih berpengalaman. Mendengarkan kritik akan karya kita adalah cara efektif untuk belajar dan upaya pengembangan diri.
Bagaimana? Mudah bukan untuk menjadi desiner? Tidak harus memiliki keahlian sejak lahir di bidang ini namun yang diperlukan adalah mengasahnya dengan perbanyak latihan, menemukan inspirasi, dan referensi dari karya orang lain.

Penulis : Marsyella N.

20200711_122446_0002

Mengenal Divisi Editor di UKM Pers G-Plasma

Saat ini perkembangan informasi sangat cepat. Setiap orang bisa melihat berita atau kejadian yang menarik di media massa. Apalagi dengan adanya internet sebagai media yang dapat menyajikan informasi secara real time. Dalam kegiatan jurnalistik, informasi  tersebut tidak serta merta langsung di publish, tetapi harus melalui proses editing oleh seorang editor.

Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM) di Politeknik Negeri Madiun yang bergerak di bidang Pers adalah G-Plasma. Dimana organisasi ini sebagai media massa mahasiswa dalam mendapatkan informasi, serta menyampaikan informasi yang bersifat terbuka dalam menerima aspirasi seluruh mahasiswa Politeknik Negeri Madiun.

Sebagaimana kegiatan jurnalistik, di G-Plasma proses editing berita/artikel dilakukan oleh Divisi Editor. Divisi ini berada di bawah Pimpinan Redaksi (Pimred), Indah Pranataning Tyas, pada Periode 2020/2021. Editor bisa disebut juga seorang yang bekerja di belakang layar. Editor bertugas menyunting berita/artikel sebelum diterbitkan.

Seorang editor harus memiliki kepekaan terhadap bahasa, mengerti ejaan, memahami tata bahasa, dan tidak malas membaca kamus, misalnya KBBI atau PUEBI, serta memiliki kepekaan terhadap unsur SARA dan pornografi. Berikut ini adalah tugas Editor yang terdapat dalam AD/ART UKM Pers G-Plasma Politeknik Negeri Madiun:

  1. Mengedit atau menyunting seluruh hasil karya tulis atas izin Reporter.
  2. Mengoordinasikan kembali hasil editorial dengan Reporter sebelum dicek dan disetujui oleh Pemimpin Redaksi.
  3. Wajib mendelegasikan anggotanya minimal 2 orang setiap rapat evaluasi.

Pada Periode 2020/2021 anggota Divisi Editor UKM Pers G-Plasma ini berjumlah 11 orang, yang di koordinasi oleh Nabila Rohmah dan anggota sebagai berikut:

  1. Dita Fajarothul I.
  2. Ratriana Lia M.
  3. Kistia Meilani Sanda
  4. Jenny Refa A. M.
  5. Hanisa Putri Aprilia
  6. Aprilia Rista Pristianti
  7. Elvira Amri Saida
  8. Dany Sekti A.
  9. Rima Maulidiya P.
  10. Winda Eka R.

Itulah tugas pokok dan fungsi Editor di UKM Pers G-Plasma. Sabar dan teliti adalah kunci menyajikan informasi yang berkualitas. Oleh karena itu, di masa yang serba cepat ini diharapkan G-Plasma dapat menghasilkan informasi yang bebas dari hoax dan menarik tentunya. Semoga bermanfaat.

G-Plasma, Get The Real News!!

Penulis: Nabila dan Jenny (Div. Editor)