IMG-20191202-WA0019

Orasi dan Debat Terbuka Capres dan Cawapres

Sebagai organisasi kampus yang hidup dan senantiasa dinamis serta menjadi wadah seluruh mahasiswa dalam mengembangkan bakat dan kemampuannya agar memiliki kekayaan di bidang  ilmu pengetahuan, seni dan beragam ketrampilan lainnya, maka Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Politeknik Negeri Madiun (BEM-KM PNM) pada hari Senin (2/12/2019), bertempat di Hall Gedung M. Nuh Kampus 1 PNM, telah mengadakan Orasi dan Debat Terbuka Calon Presiden dan Wakil Presiden BEM-KM PNM periode 2019 – 2020.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjut dengan sambutan dari ketua Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) PNM, M. Farhan Ardhiansyah dan Perwakilan BEM-KM PNM, Ade Kurniawan. Acara yang berlangsung dengan tertib dan kondusif tersebut, dihadiri oleh anggota BEM-KM PNM Periode sebelumnya, Ketua Himaprodi (Kahima), dan mahasiswa/i Politeknik Negeri Madiun.
Ada empat pasang kandidat yang mencalonkan diri mereka sebagai Presiden dan Wakil Presiden BEM-KM PNM periode 2019-2020, keempat kandidat tersebut yakni:
1. Capres : Satria Surya Budi P
Wapres : Putri Rahmawati
2. Capres : Rendy Kharisma Aksmala
Wapres : Siti Dwi Cahyowati
3. Capres : Mohammad Kusdiantoro
Wapres : Sukma Candra Dewi
4. Capres : Risang Raspita
Wapres : Hanif Zuniar Haq

Dalam orasi dan debat terbuka Calon Presiden dan Wakil Presiden BEM-KM PNM tersebut, keempat pasang calon menjelaskan visi dan misi mereka, serta  program kerja yang akan mereka usung. Dalam kesempatan ini, respon para hadirin cukup antusias untuk melemparkan sejumlah pertanyaan kepada keempat pasang kandidat. Pada akhir acara, keempat pasang kandidat diberi kesempatan menyampaikan closing dan statement masing-masing.

IMG_7624.JPG

Lomba Story Telling dan Speech Contest

Bertepatan dengan acara anniversary Himpunan Mahasiswa Bahasa Inggris (HIMAGS) Politeknik Negeri Madiun (PNM) telah dilaksanakan acara lomba Story Telling dan Speech Contest dengan tema “Tropical Vibes”. Acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 November 2019 pukul 08.00 pagi di Kampus 1 PNM. Lomba diikuti oleh pelajar SLTA sederajat se-Karisidenan Madiun. Peserta lomba Story Telling sebanyak 30 peserta bertempat di hall Kampus 1 PNM dan sebanyak 31 peserta untuk lomba Speech Contest di auditorium Kampus 1 Politeknik Negeri Madiun.
Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan sambutan oleh Kepala Program Studi (Kaprodi) Bahasa Inggris Muhyiddin Aziz, S.S., M.Pd dan penampilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni tari.

Acara berlansung dengan meriah dari peserta Story Telling yang membawakan cerita tentang legenda. Sebelum pengumuman pemenang lomba Story Telling dan Speech Contest peserta dihibur dengan penampilan akustik dari ABC Akustik yang membawakan beberapa lagu.

IMG_7612.JPG

Hasil wawancara dari salah satu peserta lomba yaitu Yulia dari SMAN Pilangkenceng mengutarakan bahwa lomba ini sangat menarik dan memiliki kesan yang sangat bagus. ”Baru pertama kali masuk sudah disuguhi hiasan-hiasan jadinya fresh gitu. Interesting banget sih”. Pemenang dari lomba Story Telling adalah Ade Rahma Yolanda (SMA Negeri 3 Ponorogo), Juara 2 Chintya Bella Puspita (SMA Negeri 3 Ponorogo), dan Juara 3 Azelia Syifa Wellantari ( SMA Negeri 3 Taruna Angkasa JATIM ). Sedangkan lomba Speech Contest dimenangkan oleh Dias Rachma Rosalina (SMA Negeri 1 Geger), Juara 2 Billy Imam Saksana (SMA Negeri 5 Madiun), dan Juara 3 Nissa Eka Pratiwi (SMA Negeri 3 Taruna Angkasa JATIM). Penyerahan tropi dan hadiah diwakilkan oleh Drs. Yulius Harry Widodo, M. Hum. dan Dr. Imam Mudofir, S.Pd., M.Pd.
Penulis : Rika Dianawati

IMG_2532_resize_77

Fusena Evo.2: Batu Loncatan KMLI Tahun Mendatang

Keberadaan bahan bakar yang semakin menyusut, menuntut dewasa ini untuk menciptakan inovasi baru. Melalui KMLI (Kompetisi Mobil Listrik Indonesia) yang ke-XI, diharapkan konsumsi bahan bakar bisa tergantikan melalui energi listrik. Selain penemuan alternatif untuk bahan bakar, KMLI yang digelar di Politeknik Negeri Bandung pada 14 hingga 16 November 2019 lalu juga bertujuan untuk pengembangan Mobil Listrik (ML).

IMG_2847.JPG_resize_36

Tim Politeknik Negeri Madiun (PNM) sendiri memberikan sedikit sentuhan inovasi untuk KMLI tahun ini, yakni dengan mengurangi beban kendaraan Fusena Evo.2 (nama mobil listrik PNM) agar lebih ringan dan desain yang lebih ramping untuk mendapatkan aerodinamis dibandingkan tahun lalu. Nama Fusena dipilih karena memiliki arti perpaduan kilau cahaya dan Evo.2 adalah evolusi dari mobil listrik tahun sebelumnya. Perancangan Fusena Evo.2 telah disusun sejak bulan Mei lalu. “Tetapi, untuk pengerjaannya, kita baru mulai bulan Juli lalu,” ujar Darma Aji, salah satu anggota tim KMLI PNM. Kerja keras beberapa bulan tersebut menghasilkan buah manis lantaran adanya kenaikan pada peringkat ML milik PNM yaitu peringkat ke-9 dari 26 peserta dengan total 41 poin.

Tim KMLI PNM yang beranggotakan sebelas orang tersebut berasal dari gabungan Prodi (Program Studi) dan tingkat semester. Mulai dari Prodi Teknik Komputer Kontrol, Teknik Mesin Otomotif, dan Teknik Listrik. “Dari yang semester 5 jumlahnya ada 4 orang, sedangkan 7 orangnya dari semester 3,” sambung lelaki yang akrab disapa Aji ini.

20191116214937_IMG_2970.JPG_resize_96_compress80

Kategori pemenang dalam KMLI digolongkan menjadi beberapa kriteria yakni, Daya Tanjak, Percepatan, Slalom, Pengereman, dan Parkir. Tak hanya itu, gelar kejuaraan juga dibagi dalam 6 jenis yaitu, tim terbaik, driver terbaik, mobil terbaik, rancangan terbaik, serta presentasi dan poster terbaik. Menurut klasifikasi perlombaan diatas, berdasarkan perhitungan tim lain, PNM berhasil meraih posisi ke-4 untuk kategori Daya Tanjak dan posisi ke-4 dalam kategori Percepatan. Juga, kali ini PNM berhasil membawa pulang gelar driver terbaik.

Meski berhasil pulang dengan kemenangan dan hasil memuaskan, menurut mahasiswa yang tengah duduk di semester 5 tersebut, KMLI tahun ini dianggap tidak sportif. Sebab, keputusan dewan juri tahun ini mengecewakan dan merugikan peserta. “Tak hanya dari PNM, bahkan tim dari kota lain juga merasakan hal yang sama,” terang Aji yang berasal dari Prodi Mesin Otomotif itu.

Keputusan dewan juri yang membingungkan banyak pihak itu bukannya tak beralasan. Diduga dari pihak panitia penyelenggara tidak melakukan persiapan matang untuk acara tersebut, sehingga banyak kalangan yang mengajukan protes terhadap penilaian yang sudah ditetapkan oleh juri. Meskipun telah dikritik dari berbagai tim, namun titik terang belum didapat juga. “Kemarin itu kita nunggu dari jam 9 sampai jam 12 malam. Tapi, akhirnya ndak ada hasil juga. Malah jurinya udah pulang duluan,” kenang Aji.

Sebagai salah satu partisipan dari KMLI, Aji menyayangkan tindakan juri tersebut. Ia pun mengungkapkan bahwa alangkah baiknya jika panitia pelaksana regulasi atau panduan acara KMLI agar lebih diperketat lagi. “Jadi, walaupun kelak ada trouble dari salah satu tim, misalnya. Nanti tim tersebut tetap mengikuti peraturan berdasarkan regulasi yang sudah ada,” ungkapnya.

Tak lupa, Aji juga berpesan terutama bagi adik-adik tingkat kelak yang akan meneruskan KMLI pada tahun mendatang untuk tetap semangat dan jangan mudah puas. “Hasil yang kita peroleh tahun ini sudah bagus jika dibandingkan tahun lalu. Jadikan kekurangan tahun ini sebagai acuan untuk tahun depan dan tetaplah berkarya,” pungkasnya.

Penulis: Indah Ramadhani O. S.

IMG-20191121-WA0018

Kompak PNM Rebut Juara 1, 2, 3 di ajang VSCO

Mahasiswa PNM Jurusan Komputerisasi Akuntansi (Kompak) meraih seluruh juara di ajang VSCO (Vokasi Accounting Competition) tingkat Jawa Timur. Juara satu yaitu Ririn Dian Puspitaningrum dan Erista Retno Anjaswuri. Juara dua yaitu Jujuk Widyawati dan Dyah Maudi Nur N.S, serta juara tiga yaitu Siska Cahyaningrum dan Sariyatul Mukarommah. “Perasaan saya senang sekali mendapat juara 2. Apalagi yang menjadi juara 1, 2, dan 3 adalah perwakilan dari Politeknik Negeri Madiun semua. Kebanggaan tersendiri bagi saya dan teman-teman bisa membawa nama baik PNM”, ungkap Jeje, sapaan akrab Jujuk Widyawati.

VSCO merupakan olimpiade di bidang Akuntansi tingkat Jawa Timur yang diadakan di Universitas Trunojoyo Madura. Lomba ini diawali dengan tes secara online untuk memilih 10 peserta terbaik. Setelah lolos tes online, Jeje dan teman-temannya masuk ke semifinal dan menghadiri technical meeting pada hari Jumat, 15 November 2019. Setelah itu, masuk ke babak final yang hanya menyisihkan 6 peserta. Pada tahap final terdiri dari 2 babak yaitu mass answer dan fast right. Nilai mass answer dan fast right ini diakumulasikan untuk pengumuman babak penentuan yaitu juara 1, 2, dan 3.

Ada pengalaman yang menegangkan bagi Jeje pada babak penentuan, yaitu saat dirinya memiliki nilai yang sama dengan peserta lain. Dirinya harus melewati sebuah tes lagi. Walaupun awalnya tertinggal skor, namun pada akhirnya dirinya mendapatkan skor lebih tinggi dan lolos ke babak penentuan.”Sarannya itu untuk ngerjain soal-soal harus selalu fokus pada soal dan cepat. Karena untuk mengerjakan soal-soal tentang siklus akuntansi biasanya diberi waktu 6 jam, tapi saat lomba hanya 90 menit saja”, tutup Jeje.

Putri Wulan S.

IMG-20191120-WA0000

Catcalling yang Menghantui Kampus PNM

Catcalling menurut Oxford Dictionary didefinisikan sebagai siulan, panggilan dan komentar yang bersifat seksual dari seorang laki-laki kepada perempuan yang lewat di hadapannya. Catcalling akan berkembang menjadi street harassment, yakni bentuk pelecehan seksual yang dilakukan di tempat umum. Pada tahun 2016 lalu, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang dibentuk guna mendukung korban pelecehan seksual, Lentera Sintas Indonesia (LSI), melakukan sebuah survei tentang pelecehan seksual verbal. Hasilnya, pelecehan seksual secara verbal menjadi jenis kekerasan seksual yang paling umum terjadi. Sebanyak 58% dari 25.213 responden wanita yang disurvei pernah mengalami catcalling. Namun, pelaku Catcalling belum bisa ditindak ke meja hijau, sebab hukum pelecehan seksual di Indonesia masih fokus pada pelecehan seksual secara fisik. Catcalling merupakan jenis pelecehan seksual verbal yang sering kali tidak disadari. Pelecehan ini sering terjadi di ruang publik yang berbasis gender dan termotivasi, dimana biasanya terjadi di jalan, pasar, transportrasi umum atau bahkan dimungkinkan terjadi di tempat yang seharusnya dirasa aman seperti kampus.

Di Politeknik Negeri Madiun (PNM) sendiri, saya dan beberapa teman pernah menjadi korban dari catcalling yang dilakukan oleh mahasiswa lain dan kejadian tersebut tidak terjadi sekali, dua kali namun berkali-kali. Beberapa bulan lalu, ketika saya berjalan sendirian menuju kamar mandi, segerombolan mahasiswa dari salah satu program studi melakukan catcalling kepada saya. “Halo mbak e”, “Mbak”, “Suittt…suit”, kurang lebih seperti itu kata-kata yang mereka ucapkan kepada saya. Beberapa minggu lalu juga, ketika saya menaiki tangga, sekali lagi saya menjadi korban catcalling. Meski saat itu saya memakai rok panjang, gerombolan mahasiswa yang kebetulan menaiki tangga bebarengan dengan saya pun mengeluarkan kata-kata yang membuat saya risih. “Lho mbak ketok lho mbak (Lho, mbak kelihatan lho mbak)”, “Eh ketok eh (Eh kelihatan eh)”, “Mbak ketok lho (Mbak kelihatan lho)”. Bahkan, saya juga pernah mendapati ketika teman saya yang sedang terburu-buru sembari berlari-lari kecil menuju Kesekretariatan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) juga mendapat celotehan yang tak senonoh, “Loh mbak susumu lho,” begitu kita-kira ucap mereka kepada teman saya. Catcalling seakan akrab dengan hidup saya semenjak menempuh ilmu di bangku kuliah ini. Pasalnya tak hanya saya, bahkan teman saya juga menjadi korban pelecehan seksual melalui aplikasi mengirim pesan WhatsApp. Teman saya tersebut dimintai untuk “melayani” si lelaki yang juga sekelas dengannya. Tetapi teman perempuan saya menolak secara mentah-mentah hal tersebut, hingga akhirnya teman perempuan saya merasa takut bila bertemu dengan si lelaki itu.

Risih? Sudah pasti, tapi saya tidak habis pikir ternyata pelaku dari catcalling berasal dari orang-orang yang berpendidikan dan terjadi di lingkungan pendidikan. Saya kira catcalling hanya terjadi di jalan-jalan dan di tempat-tempat yang lingkungannya tidak baik. Bukankah seharusnya kampus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi para mahasiswi untuk mencari ilmu? Namun, mengapa malah sebaliknya? Ketika para wanita yang harusnya dimuliakan justru mendapat perkataan-perkataan yang tidak pantas diucapkan oleh laki-laki yang seharusnya melindunginya apalagi catcalling tersebut dilakukan di lingkungan kampus.

Perempuan kerap dipandang sebagai objek, harus menerima ditatap dan dinilai berdasarkan wajahnya, bentuk tubuhnya, dan pakaiannya. Namun, hal tersebut sangat menggangu bagi perempuan. Kaum hawa pastinya sangat terganggu bila ada laki-laki yang melakukan catcalling, walaupun kebanyakan dari perempuan tersebut diam tetapi di dalam hatinya mereka tidak tahu harus berbuat apa dan melawan seperti apa, serta wanita akan merasa takut.

Mungkin, pelaku catcalling di kampus menganggap panggilan-panggilan itu hanya sebuah keisengan saja dan mereka melakukan secara spontan bahkan sambil tertawa. Padahal apa yang mereka lakukan sudah bisa didefinisikan sebagai bentuk pelecehan dan para mahasiswi yang menjadi korban di sini. Tentunya mahasiswi merasa jika hal ini bukanlah hal yang lucu apalagi menghibur, justru tindakan semacam ini membuat mereka merasa tidak nyaman dan terancam, bahkan dapat menyebabkan trauma.

Walaupun pelaku catcalling belum bisa ditindak lanjut oleh hukum, namun kita bisa mulai menekan angka catcalling itu sendiri. Alangkah baiknya dari pihak kampus PNM sebagai lembaga pendidikan membuat seminar atau penyuluhan tentang pelecehan seksual termasuk juga problema yang terkait dengan catcalling. Ditambah lagi, penyuluhan atau seminar tentang sex education. Agar, para mahasiswa yang sering melakukan catcalling di lingkungan kampus sadar bahwa hal tersebut salah, bahwa hal tersebut berdampak buruk bagi korbannya. Tidak hanya dari petinggi kampus namun juga segenap masyarakat PNM mestinya harus lebih peduli dan tak menutup mata dengan isu-isu catcalling atau bahkan pelecehan seksual yang lainnya.

Penulis:
Irma Alaynaa Utari

Foto:

http://www.rifka-annisa.org

*ARTIKEL INI TELAH DIREVISI
Saya mewakili redaksi UKM Pers G-Plasma memohon maaf atas penyebutan program studi pelaku secara eksplisit maupun implisit sehingga menimbulkan kegaduhan dan kesalahpahaman. Bukanlah tujuan kami untuk menggeneralisasi dan memojokkan seluruh mahasiswa dalam program studi tersebut.
Pimpinan Redaksi UKM Pers G-Plasma,
Alam Aura Akfa

IMG-20191006-WA0014

Galang Dana untuk Karhutla, Gempa Bumi, dan Kerusuhan

Kebakaran hutan dan lahan di Riau dan Kalimantan saat ini terus memburuk. Gempa bumi yang melanda Ambon dengan korban jiwa sebanyak 23 orang. Serta kerusuhan Wamena di Markas Komando Distrik Militer 1702 Jayawijaya. Hal ini tentu membutuhkan bantuan serta kepedulian kita terhadap saudara-saudara disana berupa pakaian, makanan, dan barang-barang keperluan anak. Melihat kondisi tersebut BEM-KM PNM di bawah Kementrian Sosma berinisiatif untuk melakukan aksi galang dana. Dibantu oleh perwakilan semua Ormawa (HIMA & HMJ), UKM, serta mahasiswa yang berminat untuk ikut andil dalam acara galang dana.

IMG-20191006-WA0021

“Galang dana merupakan salah satu acara sosial yang diharapkan menimbulkan rasa kepedulian dan dapat membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah disana,” ucap Armaning Bekti Nur Prastiwi, selaku Koordinator Divisi Sosma. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 5 Oktober 2019, pukul 18.30-selesai di alun-alun Kota Madiun. Kemudian dilanjutkan keesokan harinya di Sunday Market. Penampilan akustik dari UKM Musican turut serta mewarnai acara ini. Selain itu, juga diadakan galang dana eksternal atau dari luar kampus yang dilakukan sampai tanggal 11 Oktober 2019 untuk informasi lebih lanjut bisa dilihat melalui sosial media BEM-KM PNM.

Dana yang sudah terkumpul akan disalurkan melalui FKMPI (Forum Komunikasi mahasiswa Politeknik Seluruh Indonesia) dan ACT (Aksi Cepat Tanggap), kemudian disalurkan ke tiga daerah tersebut. “Semoga bantuan dari masyarakat Madiun dan sekitarnya bisa bermanfaat. Untuk masyarakat yang mengalami bencana/musibah semoga diberi kesabaran dan ketabahan. Kedepannya semoga NKRI aman, tentram, dan sejahtera,” tutup Koordinator Divisi Sosma.

IMG-20191003-WA0024

Mahasiswa PNM menjadi Duta Pariwisata Kota Madiun

Dua mahasiswa Politeknik Negeri Madiun merahi gelar bergensi dalam ajang “Kakang Mbakyu Kota Madiun 2019”. Zahrudin Rizky Efendy dari Prodi Bahasa Inggris dan Syahendra Bagus Wijaya dari Prodi Komputerisasi Akuntasi meraih gelar Kakang dan Wakil I Kakang Madiun 2019. Mereka akan ikut berkontribusi mengembangkan dunia pariwisata di Madiun dalam 1 tahun mendatang.

 
“ Sebelumnya Pernah ikut Kakang Mbakyu di tahun 2016, cuma ikut lagi 2019 karena dulu kurang persiapan, syukur tahun ini bisa diberi amanah meskipun hanya sebagai wakil I kakang” ujar Syahendra. Zahrudin dan Syahendra mengikuti ajang ini untuk mengasah kemampuan dan ingin ikut dalam mengembangkan potensi Madiun dalam sektor pariwisata.

 
Dalam satu tahun kedepan mereka sama-sama mempunyai rencana membuat program Festival Budaya yang menampilkan potensi-potensi kota Madiun. “kita akan menampilkan semua potensi wisata di Madiun, dan mengenalkan makan khas Madiun seperti bluder, pecel dan madumongso. Sehinga dapat menarik wisatawan untuk berkunjung di kota Madiun” kata Zahrudin. Selain itu mereka juga akan melakukan road show di sekolah dan kampus untuk menjaring bakat-bakat muda di Madiun.

IMG-20191003-WA0025

Keberhasilan mereka dapat dicontoh untuk kita generasi muda. “kita harus mengeluarkan potensi yan kita punya dan miliki, kita salurkan melalui hal positif. Kedua, jika kalian berusaha maksimal maka kalian akan mendapatkan hasil yang maksimal juga” ujar Zahrudin. Sedangkan pesan dari Syahendra untuk generasi muda “Rajinlah belajar dan ikuti passion yang kalian punya, jangan terpengaruh dunia luar karena jaman sekarang krisis moral sudah banyak, yang terpenting apa yang kamu miliki terus diasah, semoga apa yang diperjuangkan dapat tercapai dimasa depan”.

IMG_5411_compress32

“Javanese Night” Grand Final Duta Kampus Politeknik Negeri Madiun 2019

Grand Final pemilihan Duta Kampus Politeknik Negeri Madiun 2019 dilaksanakan pada hari Sabtu, 21 September 2019 di Hall Gedung M. Nuh Kampus I PNM. Berbeda dengan tahun sebelumnya dimana Grand Final dilaksanakan pada siang hari yaitu serangkaian acara Dies Natalis PNM, pada tahun ini Grand Final pemilihan Duta Kampus dilaksanakan pada Sabtu malam dengan mengusung tema “Javanese Night” serta berkolaborasi dengan UKM seni yang ada di PNM.

IMG-20190921-WA0116
Sebelum mencapai tahap Grand Final, 20 finalis duta kampus telah melewati beberapa tahap serta tes. Diantaranya yaitu tes tulis, tes wawancara, tes bakat, dan masa karantina yang diisi dengan beauty class, pembekalan materi catwalk, wawasan kampus, pengetahuan umum, serta public speaking. Dengan mengikuti beberapa tahapan tersebut, diharapkan para finalis bisa lebih paham mengenai Duta Kampus PNM dan berpikiran lebih terbuka.

IMG_5313_compress67
Acara Grand Final kemarin malam dimulai dengan penampilan dari UKM Musican sebelum akhirnya dibuka oleh MC. Dilanjutkan dengan sambutan dari Muhammad Huda Mahendra, selaku Presiden BEM KM PNM dan Triana Prihatinta, S.Sos., M.M. selaku Dosen Pembina Paguyuban Duta Kampus Politeknik Negeri Madiun. Ada tiga juri yang diundang ikut andil dalam menilai penampilan finalis, yaitu Triana Prihatinta, S.Sos., M.M. (Dosen Program Administrasi Bisnis), Wisnu Prayuda Alamsyah (Mahasiswa Prodi Administrasi Bisnis) dan Debora Levy Savellina (Wakil II Mbakyu Kota Madiun 2015). Serta turut hadir perwakilan Duta Kampus yang ada di Kota Madiun.
“Belajar dari tahun sebelumnya, dimana acara ini kurang diminati atau sedikit penonton. Kami dari panitia mempunyai gagasan untuk menggandeng UKM Seni yang ada di PNM. Harapannya supaya ada sesuatu yang mempunyai daya tarik tersendiri seperti drama Roro Jonggrang. Dan alhamdulillah penonton membludak dan mendapat apresiasi dari beberapa pihak,” ujar Muhammad Huda Mahendra saat ditanya mengenai konsep acara Grand Final Duta Kampus PNM 2019.

IMG_5411_compress32

Dari 20 finalis tersebut disaring lagi dengan beberapa kategori yaitu, Duta Favorit, Duta Berbakat, Wakil II Duta PNM, Wakil I Duta PNM, serta Duta PNM 2019. Dan pada puncaknya terpilihlah Bhetaria Agustin Arfiyani dari Program Studi Administrasi Bisnis 3B dan Hanif Oktavianto dari Program Studi Akuntansi 1D sebagai Duta Politeknik Negeri Madiun 2019.
(Kistia Meilani Sanda)

IMG-20190910-WA0003

LULUSAN AHLI MADYA MEMBANGGAKAN DARI PNM TAHUN 2019

Pada hari Selasa, 10 September 2019 telah dilaksanakan Rapat Terbuka Senat Politeknik Negeri Madiun Wisuda Ahli Madya XIV Tahun Akademik 2018-2019 bertempat di The Sun Hotel Madiun. Acara ini dimulai pukul 08.00 WIB yang dihadiri oleh Direktur Politeknik Negeri Madiun, dosen, staf Politeknik Negeri Madiun, dan sebanyak 455 mahasiswa yang diwisuda beserta para wali mahasiswa. Sebagai tamu kehormatan, acara ini dihadiri oleh Walikota Madiun Drs. H. Maidi, SH., MM., M.Pd. beserta Ketua DPRD Kota Madiun. Acara dibuka dengan meriah dan dilanjutkan dengan pelaksanaan wisuda yang dipimpin langsung oleh Direktur Politeknik Negeri Madiun M. Fajar Subkhan, ST., MT. Dengan pelaksanaan wisuda ini mahasiswa PNM semester 6 telah menyandang gelar sebagai Ahli Madya lulusan Diploma 3.
Dalam sambutannya, Direktur Politeknik Negeri Madiun, mengutarakan bahwa sebelum acara wisuda kali ini sebanyak 19 mahasiswa sudah mendapatkan kerja serta sebanyak 27 mahasiswa lulus seleksi di perusahaan swasta, hanya tinggal menunggu tes wawancara dan pengumuman untuk panggilan kerja. Disampaikan juga doa dan harapan dari beliau bahwa ketika mahasiswa yang kembali ke masyarakat mampu memberikan konstribusi dan sumbangsih yang terbaik dalam membangun bangsa dan negara dengan bekal ilmu dan keterampilan yang telah diperoleh selama menuntut ilmu di PNM. Beliau juga berpesan untuk menjaga nama baik almamater PNM dan semoga Allah SWT meridhoi semua cita-cita yang diinginkan oleh mahasiswa.
Selain itu, sambutan dari Walikota Madiun sendiri mengucapkan banyak terimakasih kepada Kampus PNM yang telah melahirkan lulusan terbaik sehingga banyak dibutuhkan oleh masyarakat. “Pertumbuhan ekonomi Madiun dengan adanya PNM Teknik Kereta Api serta semua yang bertaraf Nasional dan Internasional akan berdampak baik bagi kota,” tutur Walikota Madiun. Dan tak lupa Walikota Madiun juga berpesan kepada mahasiswa yang lulus tahun ini untuk menghindari pengaruh buruk yang ada di masyarakat seperti narkoba dan radikalisme yang dapat merusak generasi kedepan.

Dari hasil wawancara salah satu mahasiswa, Dewi Apriliana, A.Md. dari Prodi Komputer Kontrol serta walinya yaitu Suparjan dan Sumiati, keduanya menyampaikan rasa bangga dan senang atas gelar Ahli Madya yang diperoleh sebagai mahasiswa lulusan dengan IPK cumlaude. “Bersyukur Alhamdulillah atas yang dititipkan sama Allah SWT semoga dapat menjaga amanah ini bisa membuat orang tua bangga,” kata Dewi. Dari kedua orang tuanya berharap agar anaknya segera mendapatkan pekerjaan. Selain itu, mahasiswa Dewi Apriliana, A.Md. mengutarakan bahwa keinginannya untuk melanjutkan studi hingga S2.

Setelah diwisudanya mahasiswa PNM tentunya banyak harapan, pesan, dan doa yang disampaikan oleh dosen maupun Direktur PNM agar wisudawan dan wisudawati dapat mencapai keberhasilan di masyarakat. Salah satu dosen yaitu Indah Puspitasari, S.Pd., M.T. menyampaikan harapan kepada wisudawan dan wisudawati agar mereka segera mendapatkan pekerjaan atau berwirausaha. “Kita beri wawasan bahwa ketika mereka lulus nanti lowongan pekerjaan sangat banyak asalkan mereka mau dan mereka tidak pilih-pilih pekerjaan itu pasti ada. Selain itu, kita ada yang namanya unit JPC itu unit yang menyalurkan tenaga kerja, jadi yang lulusan seperti hari ini sama yang kemarin ada wawancara dari PT JST yang dari Jepang itu sudah ada beberapa yang direkrut,” kata Indah Puspitasari, S.Pd., M.T. Selain itu, Direktur Politeknik Negeri Madiun M. Fajar Subkhan, ST., MT. juga menyampaikan bahwa wisudawan dan wisudawati dapat berkerja baik sebagai karyawan maupun wirausahawan dengan menerapkan ilmu yang telah didapat selama belajar di PNM. “Mudah-mudahan bekal yang sudah didapatkan selama kuliah itu bisa menjadi modal yang cukup untuk mereka bermasyarakat. IPK yang tinggi itu juga harus diimbang dengan softskill, softskill itu kemampuan berkomunikasi dan kemampuan bekerja sama secara tim,” tutur M. Fajar Subkhan, ST., MT. Semoga lulusan Ahli Madya Politeknik Negeri Madiun saat ini dan kedepannya mampu bekerja di masyarakat dan mampu memperbaiki generasi sebagai pemuda yang membangun bangsa dan negaranya dengan baik.
Penulis : Rika Dianawati dan Prasojo

IMG-20190909-WA0004

Kegagalan Adalah Kesuksesan yang Tertunda

MADIUN – Bisa karena terbiasa. Pepatah tersebut mengukuhkan semangat Sri Suyatmi Pohan dalam kejuaraan BAO (Business Administration Olympics) bertaraf nasional. Lomba yang diselenggarakan di Politeknik Negeri Malang, Jumat (7/9) lalu itu diikuti oleh mahasiswa dari berbagai universitas dan politeknik se-Indonesia.

Ia berhasil menyabet juara pertama di perlombaan bidang Secretarial Skill yang diikuti oleh 14 peserta. Ami, sapaan akrabnya mengaku persiapan untuk menghadapi perlombaan ini sebenarnya sudah ia rintis sejak awal semester hingga ia menginjak semester 5. Tak hanya berkat mata kuliah Secretarial skill, kegiatan ORMAWA juga turut mengantarkannya ke gerbang kemenangan di kompetisi BAO. Pasalnya, gadis berusia 21 tahun itu juga menjabat menjadi sekretaris HIMA Prodi Adbis. “Ikut organisasi juga menjadi wadah saya untuk belajar,” ujarnya.

Ami juga sempat mengikuti lomba Business Plan BAO tahun lalu. Namun ia belum berkesempatan menang. Meski pernah mengalami kegagalan, kini usahanya terbayar dengan gemilang. Ia sukses membanggakan almamaternya. Motivasi kemenangan itu bersumber dari ibunya juga. “Ini adalah persembahan saya untuk Politeknik Negeri Madiun. Saya juga berterima kasih sebab sudah diberi kesempatan untuk menjadi mahasiswa melalui program bidikmisi,” ungkapnya.

Lewat lomba BAO, Ami berharap generasi muda bisa bersama-sama mengupgrade keahlian karena persaingan dunia bisnis sangatlah pesat. Pun, dengan diberlakukannya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) serta kehadiran Revolusi Industri 4.0 menjadikan kita berpikir dua kali untuk membuang waktu dan bermalas-malasan. Diluar sana masih banyak orang yang berjuang dan memperbaiki diri. “Sebab waktu tak pernah menunggu,” tuturnya.
BAO sendiri bertujuan untuk mengembangkan dan menerapkan ilmu mahasiswa khususnya Jurusan Administrasi Niaga. Selain lomba Secretarial Skill, ada juga lomba Business Plan, dan lomba Web Design antar mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga dan mahasiswa jurusan lain se-Indonesia. (Indah Ramadhani O.S.)