Gigih dan Berani! Berikut Beberapa Tokoh Pahlawan Jurnalistik Perempuan Indonesia

Pers G-Plasma, Masih banyak orang yang belum tahu, kalau ternyata ada peran besar para perempuan hebat yang menggunakan pikiran dan penanya sebagai senjata untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Tidak hanya dalam bidang jurnalistik, mereka juga senantiasa berjuang untuk mendorong lahirnya emansipasi perempuan dan kesetaraan gender di Indonesia. Penasaran siapa sajakah mereka? Yuk, simak bersama beberapa tokoh jurnalis perempuan Indonesia yang dilansir dari sindonews.com.

  1. Rohana Kudus

Rohana Kudus adalah jurnalis perempuan pertama di Indonesia sekaligus pendiri surat kabar “Soenting Melajoe” di tahun 1912. Melalui tulisannya, beliau kerap mengkritik praktik manipulasi yang menjebak para buruh perempuan ke dunia prostitusi. Tidak hanya itu, beliau juga berjasa atas pendirian sekolah Kerajinan Amal Setia di Koto Gadang, Sumatera Barat. Pendirian sekolah tersebut di tahun 1912 bertujuan untuk memperluas perjuangan hak-hak perempuan.

  1. S.K. Trimurti

Surastri Karma Trimurti atau akrab disapa S.K. Trimurti merupakan seorang tokoh yang aktif dalam bidang aktivis, jurnalistik, dan advokat kesetaraan gender di Indonesia. Salah satu perjuangannya ialah menolak adanya aturan feudal. Aturan tersebut menganggap berpolitik merupakan hal yang tabu bagi perempuan. Pada usia 21 tahun, S.K. Trimurti diminta Presiden Soekarno untuk menjadi pemimpin redaksi majalah “Pikiran Rakyat”. Berkat perjuangannya, Trimurti berhasil mendapat penghargaan “Trimurti Awards” dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Penghargaan ini diberikan dengan tujuan menghargai karya jurnalis perempuan di Indonesia.

  1. Rasuna Said

Rasuna Said merupakan jurnalis perempuan asal Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Selain aktif di dunia jurnalistik, beliau juga aktif berkontribusi pada organisasi islam dan gerakan perempuan. Rasuna Said sempat menjadi pemimpin redaksi pada “Majalah Raya” yang merupakan salah satu media perjuangan di daerah asalnya. Selain itu, beliau juga pernah menjadi redaktur pada majalah “Suntiang Nagari”. Pada tahun 1935 Rasuna Said memutuskan pendirian majalah mingguan “Menara Poetri”. Majalah ini membahas kesetaraan hak perempuan dan juga semangat anti kolonialisme di Indonesia.

  1. Ani Idrus

Ani Idrus adalah salah satu wartawati paling berpengaruh dalam perkembangan jurnalisme di Indonesia. Tumbuh saat berseminya kebangkitan nasional, Ani Idrus ikut berjuang melawan pemerintahan kolonial Hindia Belanda melalui tulisannya. Beliau mulai gemar menulis di umur 12 tahun dan akhirnya mulai bekerja sebagai profesional di umur 14 tahun pada “Majalah Politik Penyendar”. Pada tahun 1938, Ani Idrus sempat mendirikan majalah politik bernama “Seruan Kita” bersama suaminya, H. Mohammad Said. Sayangnya majalah tersebut tidak bertahan lama.

  1. Siti Latifah Herawati Diah

Siti Latifah Herawati Diah atau lebih dikenal sebagai Herawati Diah merupakan jurnalis sekaligus pendiri beberapa media massa, seperti Harian Merdeka, Majalah Keluarga, Majalah Berita Topik, dan surat kabar berbahasa Inggris pertama di Indonesia, yaitu The Indonesian Observer pada 1955. Edisi pertama surat kabar tersebut terbit pada saat Konferensi Asia Afrika di Bandung.
Memiliki ayah seorang dokter tidak membuatnya tertarik untuk mengikuti jejaknya. Dengan dorongan ibunya, Herawati kemudian belajar sosiologi di Barnard College, afiliasi dari Colombia University di New York. Karena latar pendidikannya tersebut, Herawati menjadi satu-satunya wartawati berpendidikan formal pada masanya. Beliau juga aktif membela hak-hak perempuan dan menyuarakan isu kesetaraan gender di Indonesia. Hal ini tercermin dengan pendirian Komnas Perempuan, Lingkar Budaya Indonesia, dan Gerakan Perempuan Sadar Pemilu.
Nah itulah tadi lima tokoh perempuan hebat dalam sejarah jurnalistik Indonesia. Jasa-jasa mereka wajib kita kenang sepanjang masa. Keteguhan serta semangat mereka dalam menulis dan memajukan jurnalistik di Indonesia patut dijadikan motivasi untuk kita sebagai para jurnalis muda.

Penulis: Divisi Reporter
Editor: Rifa’i