Waspadai Berita Hoaks yang Beredar, Berikut Sederet Fakta dan Mitos Vaksinasi Covid-19

GAMBAR CAPT1

Pers G-Plasma, Semua orang berhak untuk mendapatkan Vaksin Covid-19. Namun, karena informasi “kata teman”, “kata temannya kakak aku”, “kata tetangga lewat grup WhatsApp”, atau informasi yang tidak jelas kebenarannya dari orang-orang sekitar dan media sosial, beberapa orang menjadi ragu atau bahkan menolak vaksinasi. Hal tersebut karena alasan keamanan, efektivitas, atau percaya teori konspirasi tertentu. Penyebaran informasi palsu atau hoax merupakan salah satu masalah utama di era digital yang serba cepat.

Selama pandemi Covid-19, banyak informasi-informasi keliru seputar Covid-19 yang beredar di media sosial. Secara khusus, teori konspirasi atau informasi palsu mengenai Vaksin Covid-19 pun telah tersebar luas hingga menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Hal ini bisa membahayakan karena terkait dengan wabah penyakit yang tengah dihadapi masyarakat di banyak negara. Berikut ini fakta dan mitos vaksin Covid-19 yang sering beredar.

1. Vaksin tidak aman karena dikembangkan dan diuji dalam waktu singkat (MITOS)

Vaksin Covid-19 dikembangkan dan diuji dalam waktu yang cukup singkat bukan tanpa alasan. Direktur Johns Hopkins Office of Critical Event Preparedness and Response, Gabor D. Kelen, M.D., FACEP, FAAEM, FRCP(C), menjelaskan bahwa ada banyak alasan mengapa Vaksin Covid-19 dapat dikembangkan begitu cepat, yakni:

• Vaksin Covid-19 dibuat dengan metode yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun sebelumnya sehingga perusahaan dapat memulai proses pengembangan vaksin di awal pandemi.

• Pengembang vaksin tidak melewatkan langkah pengujian apa pun, tetapi melakukan beberapa langkah pada jadwal yang tumpang tindih (bersamaan) untuk mengumpulkan data lebih cepat.

• Beberapa jenis Vaksin Covid-19 dibuat menggunakan messenger RNA (mRNA), yang memungkinkan pendekatan yang lebih cepat daripada cara pembuatan vaksin secara tradisional.

2. Vaksin Covid-19 punya efek samping yang parah seperti reaksi alergi. (MITOS)

Fakta: Beberapa peserta dalam uji klinis vaksin memang melaporkan munculnya efek samping yang serupa dengan yang dialami dengan vaksin lain, seperti alergi, nyeri otot, menggigil, dan sakit kepala. Walaupun sangat jarang, orang memang bisa mengalami reaksi alergi parah terhadap bahan yang digunakan dalam vaksin. Itu sebabnya para ahli merekomendasikan orang dengan riwayat reaksi alergi yang parah, seperti anafilaksis terhadap ramuan vaksin sebaiknya tidak mendapatkan vaksinasi.

3. Setelah menerima Vaksin Covid-19, kita tidak perlu lagi pakai masker. (MITOS)

Fakta: Memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak fisik tetap diperlukan sampai sejumlah orang membentuk herd immunity. Perlindungan terbaik bagi kita saat ini adalah dengan terus mengikuti protokol kesehatan.

4. Vaksin Covid-19 bisa ganggu sistem kekebalan tubuh. (MITOS)

Fakta: Mengutip laman University of Maryland Medical System, pemberian vaksin tidak berdampak pada sistem kekebalan tubuh. Sebagaimana anak-anak yang menerima berbagai vaksin berdekatan dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik, orang dewasa yang akan divaksinasi pun tidak akan terganggu sistem kekebalan tubuhnya.

5. Orang yang pernah terinfeksi tidak perlu menerima vaksin. (MITOS)

Fakta: Melansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pasien Covid-19 memang telah memiliki antibodi setelah tertular. Akan tetapi, antibodi tersebut hanya dapat bertahan dalam jangka waktu 3-4 bulan, selebihnya ia akan kembali rentan terinfeksi. Dengan melakukan vaksin, tubuh akan memiliki sistem kekebalan lebih baik dengan jangka waktu lebih lama.

6. Vaksin dapat menyebabkan autisme. (MITOS)

Fakta: Berbagai penelitian dari banyak negara membuktikan tidak ada kaitan antara pemberian vaksin dengan terjadinya autisme.

7. Orang yang merasa kebal tidak perlu ikut vaksinasi. (MITOS)

Fakta: Mendapatkan vaksin bisa melindungi diri sendiri dan orang-orang sekitar. Hal ini karena bisa meminimalisir penularan penyakit yang ditularkan dari satu orang ke orang lain. Semakin banyak orang yang divaksinasi, maka semakin kecil kemungkinan timbulnya wabah penyakit.

8. Anda bisa tertular Covid-19 dari vaksin. (MITOS)

Fakta: Anda tidak akan tertular Covid-19 dari vaksin karena vaksin tidak mengandung virus corona yang hidup. Umumnya, butuh waktu beberapa minggu bagi tubuh untuk membangun kekebalan terhadap virus yang menyebabkan Covid-19 setelah vaksinasi. Hal ini membuat adanya kemungkinan seseorang terinfeksi virus yang menyebabkan Covid-19 sebelum atau setelah vaksinasi dan tetap sakit. Ini karena vaksin belum punya cukup waktu untuk memberikan perlindungan.

Situasi darurat juga memerlukan tanggapan darurat. Namun, ini bukan berarti perusahaan mengabaikan protokol keselamatan atau tidak melakukan pengujian yang memadai untuk pengembangan vaksin. Semoga dengan adanya vaksinasi Covid-19 yang sedang dilakukan di Indonesia bisa menekan angka penyebaran virus tersebut.

Walaupun sudah ada vaksinasi kita tidak boleh mengabaikan protokol kesehatan dan menerapkan 5M yang dianjurkan oleh pemerintah yaitu:

1. Memakai masker.

2. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

3. Menjaga jarak dan menjauhi kerumunan.

4. Membatasi mobilitas masyarakat.

5. Melakukan vaksinasi sesuai dengan peraturan pemerintah.

Mari ikut ambil bagian menyukseskan program vaksinasi nasional untuk menekan angka penularan penyakit dan menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity). Caranya adalah jadi masyarakat yang cerdas dan tak mudah percaya hoaks! Semoga kita terhindar dari penyebaran virus Covid-19, tetap semangat dan jangan lupa jaga kesehatan.

 

Penulis: Nadinda

Editor: Hanisa

 

Indonesia di Masa Pandemi: Antara Prokes, PPKM, dan Masyarakat

IMG_20210723_165501_068

Pers G-Plasma, Tidak terasa sudah satu tahun pandemi Covid-19 ada di Indonesia. Hal ini terhitung dari bulan Maret 2020 hingga sekarang, tetapi belum juga menemui hasil baik. Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan pemerintah untuk mencegah dan mengurangi risiko penyebaran Covid-19 ini. Dikutip dari kompasiana.com, beberapa kebijakan di antaranya mematuhi protokol kesehatan dan mengimbau masyarakat untuk dapat menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Protokol tersebut, seperti menggunakan masker, rajin mencuci tangan, dan wajib menjaga jarak. Selain itu, pemerintah juga menerapkan lockdown dan yang terbaru, yaitu PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat).

Namun, sejak awal pandemi, masih banyak masyarakat yang abai terhadap kebijakan pemerintah tersebut. Hal ini tentunya berpotensi memicu kelonjakan kasus Covid-19. Sebenarnya apa penyebab abainya masyarakat terhadap aturan protokol kesehatan ini? Melansir dari theconversation.com, ketidakpatuhan masyarakat Indonesia terhadap protokol kesehatan sebagian besar terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap bahaya penyakit, manfaat penanganan, serta besarnya hambatan dalam akses kesehatan. Selain itu, faktor jenuh dengan pandemi juga disebut menjadi salah satu alasannya.

Serupa dengan prokes, PPKM yang diberlakukan akhir-akhir ini juga belum efektif mengurangi risiko penyebaran Covid-19. Nyatanya, Masih banyak yang tidak menghiraukan adanya PPKM ini. Ada beberapa faktor yang membuat masyarakat enggan untuk mematuhi kebijakan PPKM ini, melansir dari mediaindonesia.com, beberapa faktor tersebut di antaranya:

1. Adanya perbedaan penerapan standar pemberlakuan kebijakan pembatasan yang mana dinilai inkonsisten oleh sebagian masyarakat.

2. Model pendekatan yang cenderung dilakukan dengan ancaman sanksi dan lebih banyak memperlakukan masyarakat sebagai terdakwa daripada sebagai korban situasi.

3. Desakan kebutuhan sehari-hari yang tidak bisa ditunda.

4. Munculnya oknum dan orang-orang tertentu yang mencoba mencari keuntungan dari situasi ini.

Semua ini berawal ketika wabah ini masuk ke Indonesia untuk pertama kalinya. Jika dari awal pemerintah tegas dalam menangani kasus Covid-19 ini, pasti kasus ini terkontrol dan tidak akan melonjak seperti saat ini. Pemerintah dengan segala upayanya masih belum optimal dalam membangun kesadaran masyarakat akan bahaya Covid-19, memberikan kemudahan akses kesehatan, dan mengedukasi masyarakat. Akibatnya, banyak masyarakat Indonesia yang mudah percaya dengan berita hoax dan berujung tidak percaya dengan keberadaan Covid-19. Selain itu, kurangnya keterbukaan semua pihak dalam menangani Covid-19 ini membuat masyarakat menjadi ragu.

Menurut sebuah artikel dari theconversation.com, kepatuhan masyarakat menjadi sangat penting dan merupakan kunci keberhasilan. Upaya membangun kesadaran masyarakat harus ditingkatkan dengan beberapa cara, di antaranya:

1. Dengan melakukan komunikasi yang lebih efektif hingga ke akar rumput. Hal ini dapat berlangsung melalui berbagai media dan metode yang sesuai dengan keragaman usia, pendidikan dan budaya masyarakat atau kearifan lokal.

2. Kampanye yang lebih jelas dan terarah sehingga masyarakat memiliki kesamaan pandangan untuk melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit. Selain itu, kampanye membangun optimisme masyarakat Indonesia dalam menghadapi Covid-19 juga perlu digalakkan.

3. Mempermudah akses kesehatan dengan informasi yang jelas dan berkelanjutan sehingga masyarakat cepat melakukan tindakan pemeriksaan, pengobatan, dan isolasi mandiri ketika terinfeksi.

4. Menerapkan kebijakan yang konsisten sehingga tidak membingungkan masyarakat.

Penulis: Rahmadhona

Editor: Shindy

 

Konsumsi Minuman Mengandung Vitamin C hingga Pemberian Vaksin, Berikut Mitos dan Fakta Sistem Imun Manusia

gplas

Pers G-Plasma, Apabila kita berbicara tentang kesehatan tubuh, pasti tidak jauh kaitannya dengan sistem imun yang berperan dalam melindungi tubuh dari berbagai penyakit. Namun, tahukah kalian, kalau selama ini banyak hal-hal yang sering kita dengar tentang sistem imun manusia dan ternyata salah besar? Nah, di tulisan ini kita akan membahas beberapa “mitos” tentang sistem imun manusia yang sering ditemui di sekitar kita. Namun, sebelum membahas lebih lanjut tentang “mitos-mitos” itu, kita harus tahu terlebih dahulu, sebenarnya apa sih sistem imun pada manusia itu?

Melansir dari pahamify.com, sistem imun atau yang sering disebut dalam istilah medis sistem imunitas adalah sistem pertahanan atau kekebalan tubuh yang berperan mengenali serta menghancurkan benda-benda asing yang merugikan pada tubuh kita. Sistem imunitas ini berbentuk sel-sel tertentu yang berfungsi sebagai pasukan pertahanan tubuh dalam memerangi patogen (mikroorganisme yang menyebabkan penyakit) dan berpotensi menyebabkan gangguan pada tubuh. Jadi, bisa dibilang kalau sistem imunitas ini semacam tameng tubuh untuk melindungi kita dari gangguan virus dan bakteri dari luar yang bisa menyebabkan penyakit.

Selain menghancurkan benda-benda asing yang merugikan tubuh, sistem imun kita ini juga memiliki beberapa fungsi penting yang lain, apa saja? Dilansir dari lifebouy.co.id, berikut beberapa fungsi penting lain sistem imun manusia:

  • Menjaga keseimbangan homeostatis (kondisi konstan agar tubuh berfungsi normal).
  • Mendeteksi jaringan sel abnormal, mengeliminasinya dari tubuh, serta menyingkirkan jaringan sel yang rusak atau mati.
  • Mampu menghancurkan sel kanker atau zat asing lain yang ingin menginvasi tubuh.

Selanjutnya, kita akan membahas mengenai mitos-mitos apa saja yang sering kita dengar tentang sistem imun pada tubuh manusia ini.

  1. Mengonsumsi Vitamin Mampu Menangkal Penyakit.

Mitos yang pertama ini pasti sering kita dengar, kan? Dilansir dari hellosehat.com, anggapan bahwa mengonsumsi vitamin atau suplemen dengan dosis tinggi agar tidak mudah sakit, hanyalah mitos belaka.

Faktanya, multivitamin atau suplemen harian bukan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, melainkan berfungsi untuk membantu mengisi kekurangan nutrisi yang belum terpenuhi dari makanan sehari-hari.

Belakangan ini, banyak beredar kabar tentang salah satu merk minuman dengan kandungan vitamin c tinggi dan susu steril kemasan yang sangat sering kita jumpai. Minuman-minuman tersebut dipercaya mampu menangkal virus Covid-19, apakah benar? Tentu saja salah. Bahkan, mengonsumsi minuman atau suplemen bervitamin C setiap hari ternyata juga tidak baik untuk kesehatan. Sebuah hasil penelitian dalam Journal of The American Association (JAMA), menyatakan bahwa tubuh kita hanya mampu mencerna 200 mg vitamin c  setiap harinya. Jika lebih dari itu, vitamin c tidak akan diserap oleh tubuh. Lebih dari itu, kadar vitamin c berlebih dalam tubuh dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan, seperti gangguan pencernaan, refluks asam lambung, sakit kepala, susah tidur, batu ginjal, hingga gula darah yang naik.

  1. Menutup Mulut dapat Mencegah Penularan Batuk dan Flu.

Hal ini kerap kali terdengar di telinga masyarakat dan tidak sedikit yang meyakini. Namun, pada kenyataannya, hal tersebut hanyalah sebuah mitos. Sebuah artikel di hallosehat.com memberitahukan bahwa ternyata, menutup mulut ketika batuk atau bersin ialah suatu etika yang tepat untuk membatasi penyebaran penyakit. Namun, tetap saja hal tersebut tidak dapat menutup kemungkinan flu menyebar ke orang sekitar.

Pada kenyataannya, sistem kekebalan tubuh sendiri yang menentukan besar risiko manusia dapat tertular penyakit. Jika daya tahan tubuh sedang dalam kondisi prima ketika kita berdekatan dengan orang lain yang sedang flu, maka kecil kemungkinan untuk flu tersebut menular.

  1. Olahraga Bikin Mudah Capek.

Olahraga merupakan, kegiatan yang tidak asing lagi bagi masyarakat. Hal tersebut karena olahraga dapat menyehatkan tubuh dan dapat membantu memperkuat sistem imun kita. Namun, tidak sedikit juga masyarakat yang menganggap bahwa olahraga justru membuat kita mudah merasa capek dan dapat menurunkan kekebalan tubuh.

Bersumber dari hellosehat.com, pernyataan tersebut salah. Ternyata, olahraga sangatlah baik dilakukan, asalkan tidak berlebihan. Dilansir dari allodokter.com dengan berolahraga, kita juga dapat memperoleh beragam manfaat untuk fisik maupun mental kita.

  1. Vaksin Membuat Kekebalan Tubuh Lemah

Banyak orang yang ragu atau bahkan menolak untuk divaksin. Mereka beranggapan bahwa vaksin adalah virus aktif yang sengaja dimasukkan ke tubuh sehingga bisa menurunkan daya tahan. Melansir dari hellosehat.com, mitos vaksin ini sudah terbukti salah besar oleh banyak literatur medis modern. Pada dasarnya, manusia sudah memiliki kemampuan alami untuk melindungi dirinya dari virus dan bakteri sejak masih dalam kandungan.

Sama halnya dengan sistem imun anak. Sistem imun mereka belumlah sekuat orang dewasa. Maka dari itu tetap perlu diperkuat dengan imunisasi guna mendorong sistem kekebalan tubuhnya bekerja lebih baik lagi. Jadi, vaksin justru memperkuat sistem imun tubuh dan tidak merusak atau mengganggu sel tubuh yang sehat lainnya.

Nah, itu tadi beberapa mitos dan fakta tentang sistem imun manusia. Intinya, selain menjaga kondisi badan dengan kegiatan yang positif, kita perlu juga mengimbanginya dengan pola makan yang sehat dan kehati-hatian terhadap suatu berita yang belum teruji kebenarannya.

 

Penulis : Divisi Reporter

Editor : Adinda Ayu R.

Antara Pandemi Covid-19 di Indonesia dan Singapura: Pelajaran Apa yang Bisa Kita Dapat?

 

Foto artikel opini (twibbon)

Pers G-Plasma, Dilansir dari cnnindonesia.com, Pemerintah Singapura baru-baru ini menyatakan bahwa Singapura akan memasuki masa normal baru. Masa tersebut dilakukan dengan beraktivitas normal dan hidup dengan Covid-19 tanpa harus menjalani karantina (lockdown) dan menganggapnya sebagai flu biasa. Mengapa Singapura berani mengambil langkah tersebut? Melalui cuitan di Twitter, dr.Tirta mengungkapkan ada beberapa hal yang menjadikan Singapura berani mengambil keputusan untuk hidup bersama virus Covid-19 ini, di antaranya:

1. Singapura termasuk negara yang disiplin, baik pemerintah maupun warganya apalagi soal protokol kesehatan selama ini.

2. Program vaksinasi berjalan lancar.

3. Fasilitas kesehatannya lengkap dan mumpuni.

Dalam twitternya, ia juga menambahkan, “Jika kita ingin seperti itu di Indonesia, jangan mau hasilnya aja, tapi menghindari prosesnya.”

Kesigapan Indonesia dalam menghadapi kasus Covid-19 memang masih kalah jauh dengan negara tetangga kita ini. Hal ini terbukti berdasarkan data Ourworldindata.org, Sebanyak, 2,06 juta atau 36% dari total penduduk Singapura sudah menerima vaksinasi lengkap. Kesadaran dan kepatuhan kolektif dari setiap anggota masyarakat dinilai paling menentukan kesuksesan normal baru di Singapura. Hal tersebut terbukti ketika Singapura mencatat total 62.544 kasus Covid-19 dengan angka kematian sejumlah 36 kasus. Ini menjadikan Singapura sebagai salah satu negara dengan kasus Covid-19 terendah di dunia.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Menurut tempo.co per 26 Juni total yang menerima dua dosis vaksin Covid-19 sebanyak 13.018.524 jiwa dan target pemerintah berencana memvaksinasi 181,5 juta warga atau 70 persen dari jumlah populasi. Per tanggal 26 Juni kasus Covid-19 di Indonesia tercatat sebanyak 2.093.962 jiwa, angka yang sangat tinggi dengan kurva yang semakin naik.

Memang, penanganan kasus Covid-19 Singapura dan Indonesia tidak bisa disamakan begitu saja mengingat Indonesia memiliki populasi yang lebih banyak dari Singapura. Namun, dari negara tetangga ini kita bisa belajar bahwa dalam memerangi pandemi harus ada kerja sama dan kepercayaan antara pemerintah dengan masyarakat. Kita memang tidak bisa kembali sepenuhnya beraktivitas seperti sebelum pandemi Covid-19 ini ada. Namun, kita masih bisa beraktivitas dengan keadaan yang baru. Kuncinya adalah kepatuhan dan kepercayaan masyarakat juga vaksinasi, karena vaksinasi sangat efektif mengurangi risiko tertular dan menularkan.

Masalah-masalah lain yang muncul saat pandemi Covid-19 di Indonesia juga sedikit banyak berdampak pada penanganan kasus Covid-19. Hal tersebut dimulai dari adanya oknum yang tidak bertanggung jawab, ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah, hingga masyarakat yang masih ‘bebal’ dengan protokol kesehatan yang berlaku. Kita boleh saja tidak menyukai sesuatu, tetapi jangan merugikan orang lain. Tidak ada salahnya juga untuk memberikan kritik, tetapi harus yang bersifat membangun dan disertai dengan jalan keluarnya. Kritik sah dilakukan, tetapi protokol kesehatan bukanlah hal yang harus diabaikan. Mari menjadi pribadi yang taat dengan protokol kesehatan agar semua segera terselesaikan.

Penulis : Tama

Editor : Hanisa