Proyek Jurassic Park, Picu Pro dan Kontra Konservasi Pulau Komodo

Proyek Jurassic Park, Picu Pro dan Kontra Konservasi Pulau Komodo

Proyek Jurassic Park, Picu Pro dan Kontra Konservasi Pulau Komodo
Proyek Jurassic Park, Picu Pro dan Kontra Konservasi Pulau Komodo

Komodo (Varanus komodoensis) atau lebih dikenal dengan biawak besar, merupakan kadal terbesar di dunia dengan panjang rata-rata 2 -3 meter dan berat bisa mencapai 100 kg. Komodo liar hanya bisa ditemukan di Nusa Tenggara Timur (NTT) Indonesia, tepatnya di pulau Komodo, Rinca, dan pulau – pulau kecil di sekitarnya serta di pesisir barat Pulau Flores. Oleh penduduk lokal, biawak ini terkenal dengan sebutan “Ora”.

Jumlah Biawak Komodo semakin berkurang akibat aktivitas manusia sehingga komodo termasuk ke dalam salah satu spesies hewan yang rentan terhadap kepunahan. Biawak komodo telah ditetapkan sebagai hewan yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia dan habitatnya dijadikan taman nasional yaitu Taman Nasional Komodo (TNK), dengan tujuan untuk melindungi habitat mereka dari kepunahan.

Namun, kini TNK terancam ditutup. Seperti dilansir dari Pikiran Rakyat Jumat (6/11/2020), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah mengembangkan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Super Prioritas Labuan Bajo, NTT. Pulau ini akan disulap menjadi destinasi wisata premium dengan pendekatan konsep geopark atau wilayah terpadu yang mengedepankan perlindungan dan penggunaan warisan geologi dengan cara yang berkelanjutan. Konsep pengembangan geopark ini popular dinamakan dengan Jurassic Park.

Menyadur dari Kompas, Jumat (6/11/2020) Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa, tujuan utama konsep ini adalah mempromosikan kesejahteraan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan dengan mengembangkan potensi yang ada dengan cara yang berkelanjutan.

Melalui Ditjen Cipta Karya, Kementerian PUPR telah menganggarkan Rp 69,96 Miliar untuk menata kawasan Pulau Rinca.

Pengadaan proyek ini memiliki beberapa fakta menarik, diantaranya :

Total konsesi yang diberikan kepada tiga perusahaan mencapai 465.17 Hektar, dengan informasi terkait slot lainnya belum diumumkan.

Perusahaan tersebar melalui zona pemanfaatan di beberapa lokasi yang strategis, di antaranya Pulau Rinca (Loh Buaya), Pulau Komodo (Loh Liang), Pulau Radar (3 lokasi), dan Pulau Tatawa.

Loh Buaya, Pulau Rinca, merupakan rumah bagi 50 hingga 100 Komodo, beserta beragam satwa lainnya.

Loh Liang, Pulau Komodo, merupakan rumah bagi 50 hingga 100 Komodo beserta beragam satwa lainnya.

Pemerintah telah memberikan izin konsesi sebesar 19.6 persen dari Pulau Radar kepada PT Kintetsu World Express Indonesia (KWE).

Walaupun Pemprov NTT telah menjelaskan bahwa pembangunan kawasan wisata ini bertujuan menjadikan Pulau Rinca sebagai mass tourism super premium. Serta berjanji tidak akan mengganggu ekosistem dan habitat asli Komodo, masyarakat dan organisasi lingkungan justru berpendapat sebaliknya. Seperti yang disadur dari Bisnis Tempo, Jumat (6/11/2020) Masyarakat khawatir pembangunan pariwisata premium akan mengancam keutuhan ekosistem komodo sebagai satwa endemis di Pulau Flores. Sebab, TNK yang merupakan kawasan konservasi yang perlahan mulai disulap menjadi pengembangan wisata premium yang kepentingannya tidak untuk kelestarian.

Selain itu, Peneliti dari Sunspirit for Justice and Peace, mencatat pengubahan zonasi ini dikhawatirkan bakal mempersempit zona rimba sebagai ruang hidup komodo dan satwa lainnya. Forum Masyarakat Peduli dan Penyelamat Pariwisata (Formapp) menyoroti pembangunan sumur bor sebagai bagian dari sarana dan prasarana di Pulau Rinca. Pembangunan ini akan mematikan sumber-sumber air yang selama ini menjadi sumber hidup satwa dan tumbuhan di kawasan Pulau Rinca.

 

Penulis : Divisi Reporter

Editor : Rima Maulidya Pramesti