Proklamasi Kemerdekaan tak Luput dari Peran Tokoh Perempuan

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2020, Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia yang ke-75. Artikel kali ini akan membahas sedikit mengenai sejarah Indonesia merdeka. Yuk langsung kita simak pembahasannya!

Pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sangat besar peran Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta sehingga mereka diangkat menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama. Tak hanya mereka berdua, banyak pahlawan yang berperan penting dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka. Salah satu dialog sang proklamator yang tidak boleh kita lupakan yaitu jas merah (jangan sekali-sekali melupakan sejarah). Seakan-akan menyampaikan pesan tersurat bahwa kita sebagai generasi penerus bangsa tidak boleh melupakan perjuangan para tokoh pejuang bangsa untuk memperoleh kemerdekaan Republik Indonesia.

Apa yang akan terjadi sekarang ini apabila dahulu para pejuang bangsa tidak berjuang merebut kemerdekaan? Mungkin saat ini kita masih dibawah tangan para penjajah. Tokoh yang berperan penting dalam kelancaran proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 itu tidak hanya lelaki, namun proklamasi tidak lepas dari peran beberapa tokoh perempuan. Berikut beberapa tokoh perempuan penting dalam proklamasi kemerdekaan RI :

Surastri Karma Trimurti

S.K. Trimurti merupakan istri dari Sayuti Melik. Ia merupakan seorang wartawan, ia aktif menyuarakan nasionalisme melalui tulisan dan bergabung dengan partai politik “Partai Indonesia”. Ia mencintai jurnalistik berkat Ir. Soekarno. Tulisan Trimurti pernah dimuat dalam koran Fikiran Rakjat pada tahun 1933. Ia beberapa kali mendirikan majalah dan surat kabar. Ia pernah ditangkap pemerintah kolonial Belanda karena tulisannya dirasa menyudutkan penjajah. Ia juga berurusan dengan otoritas militer dan mendekam di penjara Blitar pada zaman penjajahan Jepang. Dilansir dari laman www.femina.co.id, 14/8/2020.

S.K. Trimurti ikut menghadiri proklamasi kemerdekaan RI dan dirinya diminta untuk mengibarkan bendera Sang Merah Putih. Akan tetapi, pada saat itu, ia menolak karena ia hanya memakai pakaian kebaya dan kain jarik. Oleh karena itu, untuk menggantikannya, ia mengusulkan pemuda dari Pembela Tanah Air (Peta) yang bernama Latief Hendraningrat. Setelah Indonesia merdeka, ia menjadi Menteri Perburuhan pertama di Kabinet Amir Syarifuddin pada tahun 1947-1948 dan juga sebagai seseorang menteri perempuan pertama kali.

Fatmawati

dari laman tirto.id, 17/8/2020, Pada Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, beberapa tokoh perempuan hadir, seperti Fatmawati, S.K. Trimurti, serta beberapa mahasiswi Sekolah Perobatan (Yaku Gaku) dan Sekolah Tinggi Kedokteran (Ika Daigaku). Fatmawati aktif berorganisasi sejak muda. Ia menjadi pengurus organisasi wanita Muhammadiyah dan Nasyiatul Ausyiah. Ia merupakan istri dari Ir. Soekarno, ia setia mendampingi Soekarno dalam kegiatan perjuangan meraih kemerdekaan. Ia adalah seorang yang menjahit bendera Indonesia yang pertama kali untuk dikibarkan pada saat proklamasi kemerdekaan RI.

Sukarno membentuk Barisan Berani Mati untuk mempertahankan kemerdekaan. Banyak orang yang datang ke rumah mereka di jalan Pegangsaan Timur nomor 56 untuk mendaftarakan diri. Berdasarkan buku berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” karya Cindy Adams disebutkan bahwa Fatmawati membangun dapur umum untuk memberi makan ratusan orang dari gelombang pertama yang membentuk benteng manusia sekeliling Pengangsaan Timur 56. Fatmawati juga menjaga dan merawat Sukarno yang tengah sakit di masa-masa genting proklamasi kemerdekaan RI. Dikutip dari www.femina.co.id, 14/8/2020.

3. Etty Abdurrachman

Etty Abdurrachman merupakan anggota Pemuda Putri Indonesia. Dua hari sebelum proklamasi, di rumah Sutan Sjahrir, ia dan kawannya mendengarkan penjelasan Sutan Sjahrir mengenai pengumuman penyerahan Jepang kepada Sekutu dan harus segera menyelenggarakan proklamasi. Sjahrir juga mengatakan bahwa jika setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan dan Sekutu datang untuk mengambil alih kekuasaan, maka para pemuda akan berdemonstrasi untuk menentangnya.

Etty yang sebagai mahasiswi bersama kawan lainnya turut hadir di pelataran rumah Soekarno di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 tepat pada 17 Agustus 1945. Dalam Aku Ingat: Rasa dan Tindak Siswa Sekolah Kolonial di Awal Merdeka Bangsa (1996: 1), Etty memaparkan bahwa tanggal 17 Agustus 1945, suasananya tenang, orang di pekarangan tidak banyak, orang yang mendengar Proklamasi Kemerdekaan bertepuk tangan, tidak ribut, tidak meriah, sopan dan tenang. Dia juga memaparkan bahwa dirinya terharu dan perasaannya bercampur aduk. Dilansir dari laman tirto.id, 17/8/2020.

4. Satsuki Mishima

Menjelang dini hari, tersiar kabar bahwa pengumuman kemerdekaan akan diselenggarakan di lapangan IKADA (Ikatan Atlelit Indonesia) pada jam 10 pagi setelah Chairul Saleh datang ke asrama Prapatan 10 dengan membawa naskah proklamasi. Naskah proklamasi itu sebelumnya masih berupa konsep tulisan tangan yang ada banyak coretan, masih harus dikoreksi dan ada perubahan yang telah disetujui. Sayuti Melik kemudian diminta untuk mengetik naskah. Akan tetapi, saat itu, tidak terdapat mesin tik yang bisa dipakai. Satsuki Mishima, pembantu rumah tangga di rumah Laksamana Tadashi Maeda, diminta untuk meminjam mesin tik ke kantor Militer Jepang. Berkat bantuan Mishima, Sayuti kemudian dapat mengetik naskah Proklamasi.

Satsuki Mishima memasak makanan untuk para pendiri bangsa yang berkumpul di rumah Maeda. Peristiwa proklamasi bertepatan dengan bulan Ramadan. Mishima membuatkan nasi goreng untuk makan sahur Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Subardjo. Dilansir dari laman tirto.id, 17/8/2020.

 

 

Penulis : Winda Eka dan Ratriana Lia

Editor : Kistia Meilani Sanda