tumblr_mf8pwsmFEv1qk46vzo1_1280

Rohman memarkirkan motor tuanya dengan hati-hati. Ia segera mematikan mesin motornya. Alih-alih takut jika tetangga di sekelilingnya terbangun. Mengingat jika malam sudah cukup larut. Di ujung sebuah gang sempit di pinggiran ibu kota, terdapat sebuah bangunan yang ia sebut sebagai istana. Bangunan tersebut sederhana dan jauh dari kata mewah. Namun layak untuk jadi tempat tinggal dan masih pantas untuk Rohman sebut nyaman.

Usianya baru dua puluh satu tahun. Namun di usia yang terbilang masih muda itu, ia sudah nekat untuk mengadu nasib di ibukota. Terhitung sudah dua tahun ini ia tinggal di Jakarta. Karena latar pendidikan yang hanya lulusan sekolah menengah atas, maka pekerjaaan yang ia dapat hanyalah sebagai office boy di sebuah perusahaan yang gajinya lumayan untuk biaya makan sehari-hari dan menyambung hidup di kota metropolitan. Baginya itu lebih baik daripada harus mengemis atau melakukan tindak kriminal demi mendapat uang. Apalagi di era modern ini sangatlah susah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Ya, wajah ibu kota metropolitan di layar kaca tidak seindah dengan kenyataan yang ia jalani.

Beberapa hari ini Rohman harus pulang agak malam. Hal ini dikarenakan ada rapat penting di kantornya. Setiap rapat ia akan menunggu di ruangannya sambil merebahkan diri. Jika rapat selesai, barulah ia mulai bekerja. Menata kursi-meja, membersihkan cangkir-cangkir kopi bekas para petinggi, mengangkut sampah, dan membuang bekas sisa-sisa konsumsi. Meskipun setiap rapat selalu ada sisa dus-dus makanan yang berlebih. Entah karena memang sengaja dipesan berlebih atau karena ada beberapa manager yang tidak menyentuhnya sama sekali, tak jarang ia mengintip dus-dus yang ada di meja. Barangkali ada sisa makanan yang dapat ia bawa pulang. Jelas bagi seorang office boy seperti Rohman akan sangat menguntungkan sebab ia harus giat menabung  untuk keluarganya di kampung serta adiknya yang masih bersekolah. Hari ini sisa empat dus nasi kotak dan beberapa kudapan. Lebih dari cukup untuk ia makan malam ini dan besok pagi. Dua untuk hari ini, dua untuk besok pagi, dan beberapa jajan akan segera ia makan nanti. Setelahnya, ia pulang menenteng empat dus makanan tersebut dan kudapan yang ia dapat tadi.

Setibanya di rumah, tercium bau busuk dari dalam. Bau khas nasi basi yang menyengat. Bau tersebut berasal dari sisa nasi kemarin yang belum sempat ia buang. Akhir-akhir ini Rohman memang sering membawa makanan dari kantornya. “Sudah waktunya dibuang,” pikir Rohman. Dengan berat hati ia membereskan sisa makanan tersebut dan memasukannya ke sebuah kantong plastik lalu meletakkannya ke tumpukan sampah di pojok depan rumah. Hal itu dilakukannya agar baunya tidak menganggu tetangga. Ia pun masuk kembali ke dalam rumah dan menyantap makanan yang sudah ia bawa dari kantor. .

***

Pagi-pagi, bau busuk kembali tercium. Rohman mencari dari mana asal bau tersebut. Usut punya usut, bau tersebut berasal dari makanan yang semalam sengaja ia sisihkan. Rencananya nasi itu akan ia makan sebagai sarapan. Namun sayang hal tersebut gagal karena makanan yang sudah keburu basi.

“Dibuang lagi kan.” Dibawanya tumpukan dus itu ke tempat sampah.

Saat Rohman keluar untuk membuang sampah, seorang anak mengendap-endap dan memungut bungkusan yang ia buang semalam. Anak laki-laki itu kedapatan tengah memakan nasi basi yang ada di dalam bungkusan tersebut. Rohman penasaran. Lantas ia mendekati anak tersebut.

“Ampun Bang, ampun! Saya nggak nyuri! Jangan bawa saya ke polisi, Bang! Ampun!” teriak anak kecil pemungut nasi dengan ketakutan. Dirinya merasa ‘disergap’. Padahal Rohman hanya menepuk pundaknya. Namun segera ia menurunkan volumenya ketika Rohman menempelkan telunjuk di mulutnya agar anak tersebut diam sebab khawatir jika tetangga akan merasa terganggu.

“Ampun Bang. Saya pikir itu sudah dibuang, Bang.”

“Sudah, kamu nggak usah takut begitu. Lagi pula itu kan tidak sehat. Kenapa kamu makan?” Anak itu masih saja diam ketakutan. “Sini, ikut saya,” kata Rohman sambil menarik anak tersebut menuju teras rumahnya. “Kamu tunggu di sini ya. Saya beli makanan dulu.”

Awalnya anak itu ragu, namun ia menurutinya juga. Beberapa menit kemudian, Rohman datang membawa dua bungkus nasi uduk lengkap dengan teh hangat. “Makanlah!” Rohman menyerahkan satu bungkus kepada anak tersebut. Mereka berdua kemudian makan bersama.

“Kamu kenapa makan nasi basi itu?” tanya Rohman di sela-sela mereka makan. “Saya lapar Bang. Di rumah, emak masaknya kurang. Adik saya kalo lapar ngeluhnya nggak konsentrasi belajar. Apalagi sekarang lagi ulangan. Saya kasihan Bang.” Udin, biasa anak itu disapa, merupakan sulung dari dua bersaudara. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci. Sementara ayahnya sudah meninggal setahun yang lalu. Adik kecilnya, Nani, masih berusia 10 tahun dan duduk di bangku sekolah dasar. Udin terpaksa putus sekolah saat ia kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kesehariannya yaitu bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Kadang juga berkeliling menjajakan tisu di lampu merah atau dari satu kompleks perumahan ke kompleks perumahan lainnya. Semua itu dilakukannya demi membantu membiayai keluarga. “Tapi saya nggak pernah nyolong Bang. Selagi saya diberi sehat, saya bakal berusaha semampu yang saya bisa.”

Rohman semakin bersimpati dan kagum terhadap Udin. Sungguh perjuangan dan pengorbanan yang sangat besar dan patut diteladani dari seorang anak laki-laki yang tidak sengaja ia temui. Mendengar ucapan Udin tadi, Rohman menyadari jika hidup merupakan perjuangan yang tiada hentinya dan terkadang harus melawan ego, hawa, dan  nafsu diri sendiri. Sarapan kali ini meninggalkan kesan yang mendalam baginya dan mungkin hal itu juga dirasakan oleh Udin.

 

Balada Nasi Basi

Larut di bawah sinar rembulan, lelaki muda masih giat menyelami malam, mengais sisa para petinggi berdasi jabatan

Jatah yang tak seberapa namun cukup mengganjal beban derita

Dimakannya lahap, tak peduli jika itu bekas, baginya rasa bak bintang lima

Lalu ia sisakan satu untuk penyambung hidup esok

Sayang, fermentasi asa sudah terlanjur, bentuk utuh nan konyol pengganti sempurna, rasa dan karsa nasi basi

Dibawanya ia menuju tempat pembuangan

Namun manusia lain menganggapnya sebagai berkah, menyelami rasa yang terbuang, terasa nikmat dalam khidmat nada kelaparan

Balada nasi basi, bersahabat erat dengan kehidupan sehari-hari, yang dibuang tanpa arti, yang dinanti insan lain

Dan semua sarat akan makna, tentang rajutan peluh tanpa keluh, demi sesuap pemenuh hasrat

Sumber foto : Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *