Ada Apa Tanggal Ini?
Mengingat Peristiwa pada 8 Agustus 1945

FEED1_compress45
Hallo sahabat Plasmers… Yuk kita ulik dan bahas apasih yang terjadi pada 8 Agustus 1945? Nah jadi pada tanggal ini terjadi dua peristiwa penting yang menorehkan sejarah kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Yang pertama yaitu Kekalahan Telak Jepang. Pada 8 Agustus 1945, Uni Soviet/Rusia yang saat itu dipimpin oleh Stalin, telah mengumumkan dan menyatakan perang terhadap Jepang. Pasukan Uni Soviet kemudian menyerang Manchuria, yang terletak di timur China. Uni Soviet dan Jepang sebelumnya telah menandatangani perjanjian non-agresi. Namun, setelah Sekutu mengebom kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945, Jepang pun bersiap untuk menyerah. Uni Soviet menggunakan kesempatan ini untuk merebut beberapa wilayah kekuasaan Jepang. Kemudian disusul pengeboman di kota Nagasaki, pada 9 Agustus 1945. Bom tersebut meledak dengan sangat dahsyat, hingga diperkirakan menelan korban kurang lebih 70.000 – 80.000 jiwa penduduknya.
Pada bulan selanjutnya, banyak orang tewas karena efek luka bakar, penyakit radiasi, dan cedera lain disertai sakit dan kekurangan gizi. Di dua kota tersebut, sebagian besar korban tewas merupakan warga sipil meskipun terdapat garnisun militer besar di Hiroshima. Kaisar Hirohito (Showa) menyatakan menyerah tanpa syarat kepada tentara sekutu pada 14 Agustus 1945. Penyerahan tanpa syarat tersebut, membuat pemimpin Indonesia pada saat itu kebingungan lantaran Jepang adalah kandidat terkuat dalam memenangkan peperangan. Ambruknya pertahanan dan komunikasi Jepang menjadi bulan-bulanan pertengkaran tahun 1945, yang mengakibatkan suatu perubahan drastis dalam lajur persiapan kemerdekaan Indonesia.
Kemudian yang kedua yaitu peristiwa Tegang Menuju Vietnam. Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat oleh pemerintah militer Dai Nippon/Jepang dianggap sebagai tiga tokoh penting serta berpengaruh bagi rakyat Indonesia. Ketiganya juga merupakan personil utama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). PPKI sebenarnya sudah dibentuk sejak 7 Agustus 1945, namun rinciannya akan ditegaskan di Dalat nanti. Misi menegangkan ke Vietnam dimulai pada 8 Agustus 1945 jelang tengah malam. Penerbangan ke Dalat sengaja dilakukan secara rahasia lantaran gentingnya situasi kala itu. Memang, waktu tempuhnya tidak terlalu lama via jalur angkasa, tapi amat berbahaya. Pesawat Sekutu sewaktu-waktu bisa datang untuk menyerang.
Dari Bandara Kemayoran, pesawat yang membawa tiga bapak bangsa Indonesia dengan kawalan beberapa perwira Jepang itu tidak langsung ke Vietnam. Tanggal 9 Agustus 1945 pagi, pesawat mendarat di Singapura untuk singgah sejenak sembari memantau situasi. Keputusan transit sehari di negeri singa ternyata pilihan yang tepat. Di hari yang sama, kota Nagasaki di Jepang dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat, mengulang kejadian serupa yang telah menimpa Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Perjalanan diteruskan pada esok hari pada 10 Agustus 1945. Beberapa jam kemudian, tibalah pesawat yang menopang nasib bangsa Indonesia tersebut di Saigon (sekarang bernama Ho Chi Minh), Vietnam dengan selamat. Jarak antara kota terbesar di Vietnam itu menuju ke Dalat sekitar 300 kilometer ke arah utara.
Tanggal 11 Agustus 1945, perjalanan dilanjutkan ke Dalat dan tiba di hari yang sama. Soekarno, Hatta, dan Dr. Radjiman beserta rombongan harus menunggu keesokan hari sesuai jadwal pertemuan dengan Marsekal Terauchi. Perjumpaan dengan pimpinan militer tertinggi Jepang untuk kawasan Asia Tenggara itupun terjadi pada 12 Agustus 1945. Marsekal Terauchi yang juga anak sulung Perdana Menteri Jepang Terauchi Mastake, membeberkan alasan mengapa memanggil Soekarno, Hatta, dan Radjiman ke Dalat. Kepada Bung Karno dan kawan-kawan, Terauchi mengaku bahwa pihaknya memang sedang diujung tanduk. Leburnya Hiroshima dan Nagasaki, serta rentetan kekalahan di sejumlah front Perang Asia Timur Raya menjadi pertanda kuat bahwa Jepang tak lama lagi bakal takluk.
Maka kata Marsekal Terauchi, Indonesia harus segera bersiap-siap merdeka, dan itu menjadi tugas Soekarno, Moh. Hatta, dan Dr. Radjiman, serta anggota PPKI untuk mempersiapkannya. “Kapanpun bangsa Indonesia siap, kemerdekaan boleh dinyatakan,” janji Marsekal Terauchi. Menurutnya, perlu waktu untuk melakukan berbagai persiapan sebelum proklamasi kemerdekaan diwujudkan. Bung Karno dan kawan-kawan tampaknya setuju dengan tawaran kemerdekaan dari Jepang tersebut. Moh. Hatta bahkan sempat mengungkapkan perasannya atas janji Marsekal Terauchi itu. Setelah jamuan makan dan acara minum teh bersama, pertemuan itu pun diakhiri. Soekarno, Moh. Hatta, dan Dr. Radjiman bersiap pulang. Mereka tidak sabar mengabarkan hasil kesepakatan dengan Marsekal Terauchi yang berisi janji kemerdekaan untuk bangsa Indonesia. Di tanah air nanti, justru muncul rangakaian polemik sebelum Indonesia benar-benar merdeka 17 Agustus 1945. Kemerdekaan ini bukanlah hadiah dari Jepang seperti yang dijanjikan Marsekal Terauchi serta sempat diterima dengan senang hati oleh Bung Karno dan kawan-kawan.

Penulis : Dela Damayanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *