FEED 1 NEW

UKM G-Plasma memiliki 6 divisi, salah satunya yaitu Divisi Fotografer. Divisi Fotografer adalah divisi yang beranggotakan anggota aktif UKM G-Plasma. Anggota divisi fotografer mempunyai tanggung jawab dalam hal mendokumentasikan dalam bentuk foto dan video sebagai penunjang proses liputan dan beberapa tugas lainnya. Berikut ini adalah tugas dan wewenang divisi fotografer :

1. Menjalankan tugas pemotretan yang diberikan Pemimpin Umum atau Pemimpin Redaksi.
2. Membuat video kegiatan selama proses liputan yang akan di-upload di channel youtube G-Plasma
3. Mengarsipkan softcopy foto–foto ke dalam Drop Box dan disk pribadi.
4. Menjaga, merawat dan mempertanggungjawabkan alat–alat dokumentasi.
5. Mengajukan foto kepada Pemimpin Redaksi setelah menyeleksi foto-foto yang akan dimasukkan ke dalam buletin dan majalah UKM Pers G-PLASMA untuk menunjang berita yang dimuat.

FEED 2 SLIDE 2

Nah, ada cerita menarik nih dari divisi fotografer yang bisa mengabadikan gambar kegiatan dari dalam kampus maupun pendelegasian keluar kampus juga. Pasti mau taukan contoh hasil jepretan dari divisi fotografer. Ada nih dari kegiatan dalam kampus yaitu MPJ (Masa Pengenalan Jurusan). Syarat utama untuk TA atau Tugas Akhir adalah adanya sertifikat MPJ dari jurusan masing-masing. Kegiatan ini diisi dengan materi hingga permainan untuk melatih kerjasama dan koordinasi antara internal kelompok. Pada foto ini memperlihatkan kebahagiaan dan antusias mereka dalam melasanakan sesi games. Eitss bukan itu aja, kita udah melanglang buana hingga ke Pulau Kalimantan yaitu Kegiatan Aliansi Pers Mahasiswa Politeknik Se-Indonesia (APMPI) tahun 2019 yang dilaksanakan di Politeknik Negeri Banjarmasin. Dalam Kegiatan APMPI juga terdapat sesi pemberian materi seputar kegiatan Pers. Wah, pasti seru kan, Pers Politeknik Negeri Madiun ini ikut andil dalam Pers Politeknik seluruh Indonesia. Apalagi dari Divisi Fotografer tentunya.

Dengan paling banyak melakukan foto untuk mendapatkan suatu berita, anggota divisi fotografer sudah pasti memiliki minat khusus di dunia pengambilan gambar ini. Untuk menunjang suatu gambar atau foto yang dihasilkan baik, tentu faktor utamanya adalah kamera, kedua yaitu skill dan yang ketiga adalah objek foto itu sendiri. Ketiga penunjang tersebut dapat diatasi dengan sedikit pengaturan atau edit. Dengan tidak mengubah terlalu banyak dan signifikan sebuah objek, maka edit tidak dipermasalahkan dalam penyampaian sebuah foto untuk berita. Masalahnya, rekayasa foto ini sebenarnya bisa terjadi bukan karena sisi edit hasil foto, melainkan terjadi karena pemilihan objek oleh fotografer, sudut pengambilan, moment yang tidak tepat, dan sebagainya.

Kemudian perkembangan teknologi di era digital editing, foto bukanlah suatu hal yang menjadi permasalahan. Seorang fotografer bisa dengan mudah berkarya dan berkreasi baik untuk keperluan estetik maupun untuk keperluan berita. Namun, di sisi lain, dengan kemajuan di era digital ini menyebabkan nilai dari suatu foto menjadi dipertanyakan antara kebenaran atau kebohongan.

Oleh karena itu, bagi fotografer jurnalistik atau wartawan yang bertugas menyebarluaskan berita tidak diperkenankan mengedit foto yang dapat menimbulkan suatu kebohongan publik sehingga ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang fotografer jurnalistik, seperti dilarang mengubah ekspresi subyek foto, gerak tubuh, sebagian anatomi tubuh atau aksesoris tubuh lainnya, memanipulasi usia atau penampilan, menambah, menukar atau menghilangkan obyek dimana akan mengubah keseluruhan konteks dari subyek foto tersebut.
sumber : sebagian www.indonesiaprintmedia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *