PicsArt_05-15-03.31.09

Manusia manapun pasti menginginkan harta yang banyak dan berlimpah. Akan tetapi jika berbicara harta yang banyak  tentu saja tidak cukup. Untuk itu dibutuhkan sedekah sebagai upaya perjuangan dan amalan kita terhadap apa yang dimiliki. Apakah kita lebih mencintai harta atau ibadah terhadap Allah SWT ?

Sedekah merupakan kegiatan yang sangat dianjurkan. Terlebih ketika bulan Ramadan datang. Rasulullah SAW bersabda bahwa sedekah yang paling utama adalah pada bulan Ramadan. Pada bulan ini, amalan-amalan umat muslim dilipat gandakan, begitu juga dengan bersedekah. Para ulama pun menegaskan bahwa bersedekah di bulan Ramadan sangat dianjurkan, karena kebaikan serta kemuliaan yang dimiliki oleh bulan ini. Sedekah adalah salah satu ibadah yang diwajibkan, terlebih untuk mereka yang tergolong mampu. Wajib bagi mereka untuk memberikan sebagian harta yang dimiliki kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan. Sedekah adalah bentuk ibadah dengan cara memberikan sebagian harta yang dimiliki untuk sesuatu yang dibutuhkan orang lain. Sedekah bisa dalam bentuk apapun asalkan memiliki nilai dan manfaat bagi penerimanya yang membutuhkan. Islam menganjurkan umat-Nya untuk berbagi dengan sesama. Selain mendapatkan pahala yang berlipat, sedekah dapat memberikan berbagai manfaat lainnya. Beberapa manfaat sedekah yang dapat dirasakan oleh penerima dan pemberi sedekah antara lain:

PicsArt_05-15-03.32.33

  1. Pahala berlipat ganda

Bersedekah merupakan tindakan yang mulia dan sangat dihargai oleh Allah SWT. Imbalan bersedekah yang paling utama adalah mendapatkan pahala. Setelah melakukan sedekah, pahala yang sudah kamu miliki akan dilipat gandakan. Bulan Ramadan yang penuh berkah ini jika kita bersedekah pahala yang didapat akan lebih besar lagi dan apabila sedekah yang dilakukan benar-benar murni dari hati, tanpa ingin diketahui oleh orang lain sama sekali. Jadi, tidak ada unsur ria atau ingin menyombongkan harta yang disedekahkan. Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Hadid ayat 18:

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Q.S. Al-Hadid: 18)

  1. Menahan diri dari membelanjakan harta yang mubazir

Sedekah adalah salah satu kontrol diri kita agar membelanjakan harta secara cermat dan cerdas. Bulan Ramadan ini, walaupun berpuasa biasanya kebutuhan berbelanja menjadi berkali-kali lipat karena harus menyiapkan lebaran dan berbagai silaturahmi yang membuat kita perlu keluar kocek lebih dalam. Untuk itu, adanya sedekah adalah menahan diri kita agar tidak banyak berbelanja hanya untuk kepentingan diri kita sendiri, melainkan ada kepekaan sosial terhadap saudara lainnya yang membutuhkan uluran tangan. Tentu itu akan lebih bermakna karena kita telah memberikan dan membagikan harta tersebut pada saudara kita sendiri.

  1. Amalan sedekah tidak akan putus walaupun sudah mati

Dunia adalah tempat menabur benih dan akhirat adalah tempat mengetam. Penyesalan yang mendalam tiada berguna bagi orang yang meninggal dunia tanpa dibekali amal sholeh selama hidupnya di dunia. Setelah seseorang meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara:

Pertama, sedekah jariyah, yaitu sesuatu yang terus-menerus manfaatnya, seperti wakaf tanah, buku-buku, lembaga-lembaga pendidikan, dan lain-lain. Kedua, llmu yang bermanfaat, seperti mengajarkan sesuatu kepada orang lain atau murid, mengarang buku, dan lain sebagainya. Ketiga, anak sholeh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya, taat dan bermanfaat bagi orang tuanya, agama, nusa dan bangsa. Rasulullah SAW bersabda:

“Jika manusia itu mati terputus semua amalannya kecuali tiga perkara, kecuali sedekah jariyah dan ilmu yang dimanfaatkan dan doa anak sholeh yang mendoakannya (Kedua orangtua).” (HR Tirmidzi).

Tiga Hal yang Dapat Merusak Amal Sedekah

 Sedekah merupakan amalan yang utama dalam Islam, yang jika dilihat dari kacamata manusia akan mengurangi harta manusia. Namun tidak dengan ketentuan Allah, Dia akan menggantinya dengan sepuluh kali lipat. Namun meskipun demikian, masih saja ada manusia yang kurang bisa menjaga keutamaan sedekah tersebut dan melakukan hal-hal yang dapat merusak amal sedekah. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 264:

ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak amal sedekah dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).”

Ada tiga hal yang berpotensi dalam merusak amal sedekah, yaitu:

Pertama, Al-Mann (menyebut-nyebut pemberian sedekah). Seseorang yang melakukan poin ini menunjukkan indikasi ketidakikhlasannya dalam bersedekah. Al-Mann ini juga mengindikasikan sikap orang yang sombong di hadapan manusia. Dengan menyebut-nyebut pemberian sedekah di hadapan orang yang ia beri sedekah, dia memamerkan kelebihan dirinya kepada orang tersebut. Perbuatan ini bisa menyakiti hati orang lain, sehingga Allah SWT melarang perbuatan buruk ini.

Kedua adalah Al-‘Adzaa (menyakiti orang yang menerima sedekah). Yang dimaksud dalam poin ini adalah menyakiti atau melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Semisal dengan merendahkan kehormatan orang yang menerima sedekah tersebut di hadapan orang banyak. Walau kita memberi sesuatu kepadanya, tapi perlakuan buruk itu telah menyakiti hatinya. Hasilnya, pahala sedekah yang begitu besar itu habis tak bersisa. Pesan indah dari QS AL-Baqarah ayat 263:

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti.”

Ketiga adalah ujub dan takabur, sebuah sikap yang menunjukkan kelebihan dirinya sehingga ia mampu bersedekah kepada orang lain. Kesombongan yang seperti ini juga dapat menghalangi pahala atau keutamaan sedekah, karena secara tidak langsung ia merasa paling hebat dan mengganggap orang lain jauh dibawahnya karena belum bisa bersedekah layaknya dirinya sendiri. Padahal sejatinya semua harta yang ia sedekahkan hanya titipan Allah semata. Ketiga hal tersebut disebut sebagai virus yang mampu merusak amal sedekah. Yang bersedekah seperti itu tidak memperoleh sedikitpun dari pahala sedekahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *