IMG-20191120-WA0000

Catcalling menurut Oxford Dictionary didefinisikan sebagai siulan, panggilan dan komentar yang bersifat seksual dari seorang laki-laki kepada perempuan yang lewat di hadapannya. Catcalling akan berkembang menjadi street harassment, yakni bentuk pelecehan seksual yang dilakukan di tempat umum. Pada tahun 2016 lalu, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang dibentuk guna mendukung korban pelecehan seksual, Lentera Sintas Indonesia (LSI), melakukan sebuah survei tentang pelecehan seksual verbal. Hasilnya, pelecehan seksual secara verbal menjadi jenis kekerasan seksual yang paling umum terjadi. Sebanyak 58% dari 25.213 responden wanita yang disurvei pernah mengalami catcalling. Namun, pelaku Catcalling belum bisa ditindak ke meja hijau, sebab hukum pelecehan seksual di Indonesia masih fokus pada pelecehan seksual secara fisik. Catcalling merupakan jenis pelecehan seksual verbal yang sering kali tidak disadari. Pelecehan ini sering terjadi di ruang publik yang berbasis gender dan termotivasi, dimana biasanya terjadi di jalan, pasar, transportrasi umum atau bahkan dimungkinkan terjadi di tempat yang seharusnya dirasa aman seperti kampus.

Di Politeknik Negeri Madiun (PNM) sendiri, saya dan beberapa teman pernah menjadi korban dari catcalling yang dilakukan oleh mahasiswa lain dan kejadian tersebut tidak terjadi sekali, dua kali namun berkali-kali. Beberapa bulan lalu, ketika saya berjalan sendirian menuju kamar mandi, segerombolan mahasiswa dari salah satu program studi melakukan catcalling kepada saya. “Halo mbak e”, “Mbak”, “Suittt…suit”, kurang lebih seperti itu kata-kata yang mereka ucapkan kepada saya. Beberapa minggu lalu juga, ketika saya menaiki tangga, sekali lagi saya menjadi korban catcalling. Meski saat itu saya memakai rok panjang, gerombolan mahasiswa yang kebetulan menaiki tangga bebarengan dengan saya pun mengeluarkan kata-kata yang membuat saya risih. “Lho mbak ketok lho mbak (Lho, mbak kelihatan lho mbak)”, “Eh ketok eh (Eh kelihatan eh)”, “Mbak ketok lho (Mbak kelihatan lho)”. Bahkan, saya juga pernah mendapati ketika teman saya yang sedang terburu-buru sembari berlari-lari kecil menuju Kesekretariatan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) juga mendapat celotehan yang tak senonoh, “Loh mbak susumu lho,” begitu kita-kira ucap mereka kepada teman saya. Catcalling seakan akrab dengan hidup saya semenjak menempuh ilmu di bangku kuliah ini. Pasalnya tak hanya saya, bahkan teman saya juga menjadi korban pelecehan seksual melalui aplikasi mengirim pesan WhatsApp. Teman saya tersebut dimintai untuk “melayani” si lelaki yang juga sekelas dengannya. Tetapi teman perempuan saya menolak secara mentah-mentah hal tersebut, hingga akhirnya teman perempuan saya merasa takut bila bertemu dengan si lelaki itu.

Risih? Sudah pasti, tapi saya tidak habis pikir ternyata pelaku dari catcalling berasal dari orang-orang yang berpendidikan dan terjadi di lingkungan pendidikan. Saya kira catcalling hanya terjadi di jalan-jalan dan di tempat-tempat yang lingkungannya tidak baik. Bukankah seharusnya kampus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi para mahasiswi untuk mencari ilmu? Namun, mengapa malah sebaliknya? Ketika para wanita yang harusnya dimuliakan justru mendapat perkataan-perkataan yang tidak pantas diucapkan oleh laki-laki yang seharusnya melindunginya apalagi catcalling tersebut dilakukan di lingkungan kampus.

Perempuan kerap dipandang sebagai objek, harus menerima ditatap dan dinilai berdasarkan wajahnya, bentuk tubuhnya, dan pakaiannya. Namun, hal tersebut sangat menggangu bagi perempuan. Kaum hawa pastinya sangat terganggu bila ada laki-laki yang melakukan catcalling, walaupun kebanyakan dari perempuan tersebut diam tetapi di dalam hatinya mereka tidak tahu harus berbuat apa dan melawan seperti apa, serta wanita akan merasa takut.

Mungkin, pelaku catcalling di kampus menganggap panggilan-panggilan itu hanya sebuah keisengan saja dan mereka melakukan secara spontan bahkan sambil tertawa. Padahal apa yang mereka lakukan sudah bisa didefinisikan sebagai bentuk pelecehan dan para mahasiswi yang menjadi korban di sini. Tentunya mahasiswi merasa jika hal ini bukanlah hal yang lucu apalagi menghibur, justru tindakan semacam ini membuat mereka merasa tidak nyaman dan terancam, bahkan dapat menyebabkan trauma.

Walaupun pelaku catcalling belum bisa ditindak lanjut oleh hukum, namun kita bisa mulai menekan angka catcalling itu sendiri. Alangkah baiknya dari pihak kampus PNM sebagai lembaga pendidikan membuat seminar atau penyuluhan tentang pelecehan seksual termasuk juga problema yang terkait dengan catcalling. Ditambah lagi, penyuluhan atau seminar tentang sex education. Agar, para mahasiswa yang sering melakukan catcalling di lingkungan kampus sadar bahwa hal tersebut salah, bahwa hal tersebut berdampak buruk bagi korbannya. Tidak hanya dari petinggi kampus namun juga segenap masyarakat PNM mestinya harus lebih peduli dan tak menutup mata dengan isu-isu catcalling atau bahkan pelecehan seksual yang lainnya.

Penulis:
Irma Alaynaa Utari

Foto:

http://www.rifka-annisa.org

*ARTIKEL INI TELAH DIREVISI
Saya mewakili redaksi UKM Pers G-Plasma memohon maaf atas penyebutan program studi pelaku secara eksplisit maupun implisit sehingga menimbulkan kegaduhan dan kesalahpahaman. Bukanlah tujuan kami untuk menggeneralisasi dan memojokkan seluruh mahasiswa dalam program studi tersebut.
Pimpinan Redaksi UKM Pers G-Plasma,
Alam Aura Akfa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *