IMG_2532_resize_77

Fusena Evo.2: Batu Loncatan KMLI Tahun Mendatang

Keberadaan bahan bakar yang semakin menyusut, menuntut dewasa ini untuk menciptakan inovasi baru. Melalui KMLI (Kompetisi Mobil Listrik Indonesia) yang ke-XI, diharapkan konsumsi bahan bakar bisa tergantikan melalui energi listrik. Selain penemuan alternatif untuk bahan bakar, KMLI yang digelar di Politeknik Negeri Bandung pada 14 hingga 16 November 2019 lalu juga bertujuan untuk pengembangan Mobil Listrik (ML).

IMG_2847.JPG_resize_36

Tim Politeknik Negeri Madiun (PNM) sendiri memberikan sedikit sentuhan inovasi untuk KMLI tahun ini, yakni dengan mengurangi beban kendaraan Fusena Evo.2 (nama mobil listrik PNM) agar lebih ringan dan desain yang lebih ramping untuk mendapatkan aerodinamis dibandingkan tahun lalu. Nama Fusena dipilih karena memiliki arti perpaduan kilau cahaya dan Evo.2 adalah evolusi dari mobil listrik tahun sebelumnya. Perancangan Fusena Evo.2 telah disusun sejak bulan Mei lalu. “Tetapi, untuk pengerjaannya, kita baru mulai bulan Juli lalu,” ujar Darma Aji, salah satu anggota tim KMLI PNM. Kerja keras beberapa bulan tersebut menghasilkan buah manis lantaran adanya kenaikan pada peringkat ML milik PNM yaitu peringkat ke-9 dari 26 peserta dengan total 41 poin.

Tim KMLI PNM yang beranggotakan sebelas orang tersebut berasal dari gabungan Prodi (Program Studi) dan tingkat semester. Mulai dari Prodi Teknik Komputer Kontrol, Teknik Mesin Otomotif, dan Teknik Listrik. “Dari yang semester 5 jumlahnya ada 4 orang, sedangkan 7 orangnya dari semester 3,” sambung lelaki yang akrab disapa Aji ini.

20191116214937_IMG_2970.JPG_resize_96_compress80

Kategori pemenang dalam KMLI digolongkan menjadi beberapa kriteria yakni, Daya Tanjak, Percepatan, Slalom, Pengereman, dan Parkir. Tak hanya itu, gelar kejuaraan juga dibagi dalam 6 jenis yaitu, tim terbaik, driver terbaik, mobil terbaik, rancangan terbaik, serta presentasi dan poster terbaik. Menurut klasifikasi perlombaan diatas, berdasarkan perhitungan tim lain, PNM berhasil meraih posisi ke-4 untuk kategori Daya Tanjak dan posisi ke-4 dalam kategori Percepatan. Juga, kali ini PNM berhasil membawa pulang gelar driver terbaik.

Meski berhasil pulang dengan kemenangan dan hasil memuaskan, menurut mahasiswa yang tengah duduk di semester 5 tersebut, KMLI tahun ini dianggap tidak sportif. Sebab, keputusan dewan juri tahun ini mengecewakan dan merugikan peserta. “Tak hanya dari PNM, bahkan tim dari kota lain juga merasakan hal yang sama,” terang Aji yang berasal dari Prodi Mesin Otomotif itu.

Keputusan dewan juri yang membingungkan banyak pihak itu bukannya tak beralasan. Diduga dari pihak panitia penyelenggara tidak melakukan persiapan matang untuk acara tersebut, sehingga banyak kalangan yang mengajukan protes terhadap penilaian yang sudah ditetapkan oleh juri. Meskipun telah dikritik dari berbagai tim, namun titik terang belum didapat juga. “Kemarin itu kita nunggu dari jam 9 sampai jam 12 malam. Tapi, akhirnya ndak ada hasil juga. Malah jurinya udah pulang duluan,” kenang Aji.

Sebagai salah satu partisipan dari KMLI, Aji menyayangkan tindakan juri tersebut. Ia pun mengungkapkan bahwa alangkah baiknya jika panitia pelaksana regulasi atau panduan acara KMLI agar lebih diperketat lagi. “Jadi, walaupun kelak ada trouble dari salah satu tim, misalnya. Nanti tim tersebut tetap mengikuti peraturan berdasarkan regulasi yang sudah ada,” ungkapnya.

Tak lupa, Aji juga berpesan terutama bagi adik-adik tingkat kelak yang akan meneruskan KMLI pada tahun mendatang untuk tetap semangat dan jangan mudah puas. “Hasil yang kita peroleh tahun ini sudah bagus jika dibandingkan tahun lalu. Jadikan kekurangan tahun ini sebagai acuan untuk tahun depan dan tetaplah berkarya,” pungkasnya.

Penulis: Indah Ramadhani O. S.

IMG-20191121-WA0018

Kompak PNM Rebut Juara 1, 2, 3 di ajang VSCO

Mahasiswa PNM Jurusan Komputerisasi Akuntansi (Kompak) meraih seluruh juara di ajang VSCO (Vokasi Accounting Competition) tingkat Jawa Timur. Juara satu yaitu Ririn Dian Puspitaningrum dan Erista Retno Anjaswuri. Juara dua yaitu Jujuk Widyawati dan Dyah Maudi Nur N.S, serta juara tiga yaitu Siska Cahyaningrum dan Sariyatul Mukarommah. “Perasaan saya senang sekali mendapat juara 2. Apalagi yang menjadi juara 1, 2, dan 3 adalah perwakilan dari Politeknik Negeri Madiun semua. Kebanggaan tersendiri bagi saya dan teman-teman bisa membawa nama baik PNM”, ungkap Jeje, sapaan akrab Jujuk Widyawati.

VSCO merupakan olimpiade di bidang Akuntansi tingkat Jawa Timur yang diadakan di Universitas Trunojoyo Madura. Lomba ini diawali dengan tes secara online untuk memilih 10 peserta terbaik. Setelah lolos tes online, Jeje dan teman-temannya masuk ke semifinal dan menghadiri technical meeting pada hari Jumat, 15 November 2019. Setelah itu, masuk ke babak final yang hanya menyisihkan 6 peserta. Pada tahap final terdiri dari 2 babak yaitu mass answer dan fast right. Nilai mass answer dan fast right ini diakumulasikan untuk pengumuman babak penentuan yaitu juara 1, 2, dan 3.

Ada pengalaman yang menegangkan bagi Jeje pada babak penentuan, yaitu saat dirinya memiliki nilai yang sama dengan peserta lain. Dirinya harus melewati sebuah tes lagi. Walaupun awalnya tertinggal skor, namun pada akhirnya dirinya mendapatkan skor lebih tinggi dan lolos ke babak penentuan.”Sarannya itu untuk ngerjain soal-soal harus selalu fokus pada soal dan cepat. Karena untuk mengerjakan soal-soal tentang siklus akuntansi biasanya diberi waktu 6 jam, tapi saat lomba hanya 90 menit saja”, tutup Jeje.

Putri Wulan S.

IMG-20191120-WA0000

Catcalling yang Menghantui Kampus PNM

Catcalling menurut Oxford Dictionary didefinisikan sebagai siulan, panggilan dan komentar yang bersifat seksual dari seorang laki-laki kepada perempuan yang lewat di hadapannya. Catcalling akan berkembang menjadi street harassment, yakni bentuk pelecehan seksual yang dilakukan di tempat umum. Pada tahun 2016 lalu, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang dibentuk guna mendukung korban pelecehan seksual, Lentera Sintas Indonesia (LSI), melakukan sebuah survei tentang pelecehan seksual verbal. Hasilnya, pelecehan seksual secara verbal menjadi jenis kekerasan seksual yang paling umum terjadi. Sebanyak 58% dari 25.213 responden wanita yang disurvei pernah mengalami catcalling. Namun, pelaku Catcalling belum bisa ditindak ke meja hijau, sebab hukum pelecehan seksual di Indonesia masih fokus pada pelecehan seksual secara fisik. Catcalling merupakan jenis pelecehan seksual verbal yang sering kali tidak disadari. Pelecehan ini sering terjadi di ruang publik yang berbasis gender dan termotivasi, dimana biasanya terjadi di jalan, pasar, transportrasi umum atau bahkan dimungkinkan terjadi di tempat yang seharusnya dirasa aman seperti kampus.

Di Politeknik Negeri Madiun (PNM) sendiri, saya dan beberapa teman pernah menjadi korban dari catcalling yang dilakukan oleh mahasiswa lain dan kejadian tersebut tidak terjadi sekali, dua kali namun berkali-kali. Beberapa bulan lalu, ketika saya berjalan sendirian menuju kamar mandi, segerombolan mahasiswa dari salah satu program studi melakukan catcalling kepada saya. “Halo mbak e”, “Mbak”, “Suittt…suit”, kurang lebih seperti itu kata-kata yang mereka ucapkan kepada saya. Beberapa minggu lalu juga, ketika saya menaiki tangga, sekali lagi saya menjadi korban catcalling. Meski saat itu saya memakai rok panjang, gerombolan mahasiswa yang kebetulan menaiki tangga bebarengan dengan saya pun mengeluarkan kata-kata yang membuat saya risih. “Lho mbak ketok lho mbak (Lho, mbak kelihatan lho mbak)”, “Eh ketok eh (Eh kelihatan eh)”, “Mbak ketok lho (Mbak kelihatan lho)”. Bahkan, saya juga pernah mendapati ketika teman saya yang sedang terburu-buru sembari berlari-lari kecil menuju Kesekretariatan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) juga mendapat celotehan yang tak senonoh, “Loh mbak susumu lho,” begitu kita-kira ucap mereka kepada teman saya. Catcalling seakan akrab dengan hidup saya semenjak menempuh ilmu di bangku kuliah ini. Pasalnya tak hanya saya, bahkan teman saya juga menjadi korban pelecehan seksual melalui aplikasi mengirim pesan WhatsApp. Teman saya tersebut dimintai untuk “melayani” si lelaki yang juga sekelas dengannya. Tetapi teman perempuan saya menolak secara mentah-mentah hal tersebut, hingga akhirnya teman perempuan saya merasa takut bila bertemu dengan si lelaki itu.

Risih? Sudah pasti, tapi saya tidak habis pikir ternyata pelaku dari catcalling berasal dari orang-orang yang berpendidikan dan terjadi di lingkungan pendidikan. Saya kira catcalling hanya terjadi di jalan-jalan dan di tempat-tempat yang lingkungannya tidak baik. Bukankah seharusnya kampus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi para mahasiswi untuk mencari ilmu? Namun, mengapa malah sebaliknya? Ketika para wanita yang harusnya dimuliakan justru mendapat perkataan-perkataan yang tidak pantas diucapkan oleh laki-laki yang seharusnya melindunginya apalagi catcalling tersebut dilakukan di lingkungan kampus.

Perempuan kerap dipandang sebagai objek, harus menerima ditatap dan dinilai berdasarkan wajahnya, bentuk tubuhnya, dan pakaiannya. Namun, hal tersebut sangat menggangu bagi perempuan. Kaum hawa pastinya sangat terganggu bila ada laki-laki yang melakukan catcalling, walaupun kebanyakan dari perempuan tersebut diam tetapi di dalam hatinya mereka tidak tahu harus berbuat apa dan melawan seperti apa, serta wanita akan merasa takut.

Mungkin, pelaku catcalling di kampus menganggap panggilan-panggilan itu hanya sebuah keisengan saja dan mereka melakukan secara spontan bahkan sambil tertawa. Padahal apa yang mereka lakukan sudah bisa didefinisikan sebagai bentuk pelecehan dan para mahasiswi yang menjadi korban di sini. Tentunya mahasiswi merasa jika hal ini bukanlah hal yang lucu apalagi menghibur, justru tindakan semacam ini membuat mereka merasa tidak nyaman dan terancam, bahkan dapat menyebabkan trauma.

Walaupun pelaku catcalling belum bisa ditindak lanjut oleh hukum, namun kita bisa mulai menekan angka catcalling itu sendiri. Alangkah baiknya dari pihak kampus PNM sebagai lembaga pendidikan membuat seminar atau penyuluhan tentang pelecehan seksual termasuk juga problema yang terkait dengan catcalling. Ditambah lagi, penyuluhan atau seminar tentang sex education. Agar, para mahasiswa yang sering melakukan catcalling di lingkungan kampus sadar bahwa hal tersebut salah, bahwa hal tersebut berdampak buruk bagi korbannya. Tidak hanya dari petinggi kampus namun juga segenap masyarakat PNM mestinya harus lebih peduli dan tak menutup mata dengan isu-isu catcalling atau bahkan pelecehan seksual yang lainnya.

Penulis:
Irma Alaynaa Utari

Foto:

http://www.rifka-annisa.org

*ARTIKEL INI TELAH DIREVISI
Saya mewakili redaksi UKM Pers G-Plasma memohon maaf atas penyebutan program studi pelaku secara eksplisit maupun implisit sehingga menimbulkan kegaduhan dan kesalahpahaman. Bukanlah tujuan kami untuk menggeneralisasi dan memojokkan seluruh mahasiswa dalam program studi tersebut.
Pimpinan Redaksi UKM Pers G-Plasma,
Alam Aura Akfa