IMG-20190112-WA0016

IMG-20190112-WA0012

Pada hari Rabu tanggal 9 Januari 2019, Politeknik Negeri Madiun (PNM) telah melangsungkan acara Kuliah Umum dengan tema “Peluang dan Tantangan Pendidikan Vokasi dalam Menyongsong Era Revolusi Industri 4.0” yang diisi oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof. H. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak. Acara yang berlangsung di Auditorium PNM ini dibuka pada pukul 10.30 WIB dengan membaca doa bersama yang dipimpin oleh Bapak Dr. Imam Mudofir, S.Pd., M.Pd. lalu dilanjutkan dengan sambutan oleh Direktur Politeknik Negeri Madiun Bapak Muhammad Fajar Subkhan,S.T., MT.

Isi kuliah tamu tersebut Bapak Mohamad Nasir mengatakan bahwa Politeknik Negeri Madiun akan menjadi trademark Politeknik di Indonesia yaitu Politeknik Perkeretaapian. Beliau juga mengatakan agar setiap Politeknik di setiap daerah memiliki keunikannya masing-masing. “Politeknik di Indonesia itu seharusnya memiliki keunikan masing-masing dari setiap daerahnya. Seperti, Politeknik Perkapalan di Surabaya, Politeknik Pesawat Terbang di Batam dan Politeknik Perkeretaapian di Madiun dan peminat dari Politeknik di Indonesia itu sangat tinggi dan lulusan-lulusannya itu diserap oleh perusahaan Multi internasional”, ujar Beliau.

Beliau juga menuturkan bahwa, 2824 universitas di China semuanya berbasis vokasi, yang mana ini sangat berbeda dengan Indonesia karena di Indonesia ada lulusan S1 dan D3. Selain itu nantinya lulusan vokasi di Indonesia tidak hanya mendapat ijazah saja namun juga mendapat sertifikat di bidangnya masing-masing dan dapat memudahkan para lulusan vokasi untuk mendapat pekerjaan. Karena dari hasil pengamatan, lulusan D3 yang memiliki sertifikat akan memiliki gaji antara Rp. 7000.000 – Rp. 10.000.000. “Namun, jika lulusan D3 tersebuat tidak mempunyai sertifikat hanya memiliki gaji sekitar Rp.2000.000 – Rp. 3.000.000. Dalam hal ini nantinya para lulusan vokasi dapat bersaingan di dunia kerja”, lanjut Beliau.

Agar lebih maju lagi, Politeknik Negeri di seluruh Indonesia harus berintergrasi dengan industri. Politeknik juga harus menjadi program nasional untuk mempercepat pertumbuhan terhadap tenaga kerja di Indonesia sesuai dengan Bonus Demografi (besarnya penduduk usia produktif antara 15 – 64 tahun dalam suatu negara). Untuk memajukan Politeknik, dosen pun juga memiliki kualifikasinya sendiri. Kualifikasi dosen nantinya 50% dari akademisi dan 50% lagi dari industri, hal ini dilakukan agar para mahasiswa atau mahasiswi terbiasa dengan praktik. “Jika dosen dari akademisi saja, nanti tidak ada praktik sama sekali”, ujar Beliau. Selain itu para dosen juga berhak menerima evaluasi dari mahasiswa dan tidak harus mengetahui nama dari mahasiswa yang mengevaluasinya.

IMG-20190112-WA0015

Indonesia juga harus berperan dalam kemajuan industri. Contohnya, dalam rancangan teknologi masa kini, Bapak Mohamad Nasir telah merancang tahun 2030 – 2045 Indonesia akan memakai print 3D dan operasi jantung dalam dunia kedokteran bisa dimulai walaupun jarak jauh. Serta semuanya akan serba otomatis apalagi sekarang sudah serba online.

(Indah & Irma)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *